JAKARTA SUARAPANCASILA.ID– Tak ada meja mewah, lampu kristal, atau pelayan berseragam. Hanya kursi sederhana, secangkir kopi, dan hiruk-pikuk Jalan Sabang, Jakarta Pusat.
Pagi menjelang siang, 6 Oktober 2026, Ketua Umum Asosiasi Usaha Kecil, Mikro, dan Pedagang Kaki Lima Indonesia Merah Putih (APKLI MP), dr. Ali Mahsun ATMO, M.Biomed, memilih menikmati kopi di sebuah lapak kaki lima.
“Rasa bintang lima, harga kaki lima,” ujarnya.
Bagi Ali, kopi di pinggir jalan bukan sekadar soal rasa dan harga. Di balik lapak sederhana itu ada pedagang yang bekerja sejak pagi, keluarga yang menggantungkan penghasilan, serta transaksi kecil yang terus menghidupkan ekonomi rakyat.
Dokter ahli kekebalan tubuh lulusan FK Universitas Brawijaya Malang dan FK Universitas Indonesia itu mengaku telah sekitar 15 tahun bersentuhan dengan kehidupan masyarakat kecil. Dari pengalaman tersebut, ia melihat pedagang kaki lima serta pelaku usaha mikro dan kecil memiliki peran penting dalam menopang kehidupan rakyat.
“Mereka adalah pilar yang mengisi perut ratusan juta rakyat Indonesia,” katanya.
Indonesia memiliki sekitar 64,5 juta pelaku UMKM. Sektor ini disebut menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja atau 97 persen lapangan kerja, berkontribusi sekitar 61 persen terhadap PDB, sekaligus menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Angka-angka itu terasa nyata di sebuah lapak kaki lima. Ekonomi rakyat tidak selalu hadir melalui gedung tinggi, pusat perbelanjaan, atau investasi besar. Ia juga bergerak dari gerobak, warung, meja sederhana, dan pedagang yang setiap pagi kembali membuka usahanya.
Dari aktivitas sederhana itulah dapur rumah tangga tetap mengepul.
Ali menilai keberadaan pedagang kaki lima dan pelaku usaha kecil bukan semata persoalan ekonomi. Di dalamnya terdapat dimensi sosial dan kebangsaan karena menjadi ruang bertemunya kebutuhan masyarakat dengan sumber penghasilan.
Di tengah obrolan dan kopi yang terus diseruput, Ali kembali menegaskan makna kesederhanaan.
“Ngopi kaki lima, rasa bintang lima. Ini pendulum kebahagiaan hidup sekaligus kompas isi perut rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Secangkir kopi memang sederhana. Namun dari kaki lima, denyut ekonomi rakyat terlihat nyata: bergerak setiap pagi, menghidupi keluarga, dan menjadi bagian dari wajah Indonesia.











