Swarna Migas Mandiri Sulap Limbah FABA Jadi Bahan Bangunan, Dorong Ekonomi Kerakyatan di Sawahlunto

Oplus_131072

SAWAHLUNTO (SUMBAR)SUARA PANCASILA.ID– Baru lima bulan berdiri, Koperasi Produsen Swarna Migas Mandiri sudah tancap gas mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal Kota Sawahlunto. Dari mengolah limbah industri FABA menjadi bahan bangunan, memproduksi pupuk organik, hingga mengelola pangkalan LPG, koperasi ini menargetkan diri jadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang membuka lapangan kerja baru.

Koperasi yang terdaftar dengan Nomor AHU 0087719.AH.01.29 Tahun 2025 ini dipimpin Erichan R.B.Ac., Dt. Malin Panghulu. Saat ini koperasi memiliki 23 anggota dan menggandeng PT Prinaltia Junta Perkasa sebagai mitra strategis.

“Kami melihat potensi Sawahlunto sangat besar kalau dikelola secara kolektif. Bentuk koperasi kami pilih agar masyarakat bisa langsung terlibat dan manfaatnya berputar di sini,” kata Erichan saat meresmikan pabrik pengolahan limbah FABA di Jalan Raya Kolok Rawang, Dusun Guguk Sumbayang, Desa Kolok Nan Tuo, Kecamatan Barangin, Jumat 15 Mei 2026.

Bacaan Lainnya

Unit usaha pertama yang sudah beroperasi adalah pengolahan limbah FABA atau _fly ash and bottom ash_ dari PLTU Ombilin menjadi produk konstruksi. Kini koperasi memproduksi batako, paving block, u-ditch, dan kanstin.

Untuk menjamin pasokan bahan baku, koperasi telah menandatangani kontrak awal dengan PT Energi Prima Nusantara, anak perusahaan PT PLN Indonesia Power UBPO Ombilin.

“Limbah FABA selama ini dianggap beban. Padahal kalau diolah, nilainya tinggi. Selain mengurangi limbah, kami bisa ciptakan lapangan kerja dan sediakan produk bangunan yang lebih terjangkau untuk masyarakat,” jelas Erichan.

Produk batako hasil produksi koperasi sudah mulai dipasarkan di Sawahlunto. Pengurus kini fokus memperluas jaringan pemasaran dan meminta dukungan promosi dari media serta pemerintah daerah.

Selain itu,bersama PT Prinaltia Junta Perkasa, koperasi juga merintis produksi pupuk organik bermerek MDK. Produk ini sudah mengantongi izin usaha atas nama mitra.

Tujuan utamanya sederhana: membantu petani Sawahlunto mendapatkan pupuk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

Tantangannya ada pada teknis produksi. Saat ini tingkat kehalusan bahan masih di Mesh 60, sementara standar minimal untuk pasar adalah Mesh 100.

“Kami butuh mesin penggiling agar kualitas produk memenuhi standar. Kalau ini terpenuhi, pupuk MDK bisa bersaing dan benar-benar membantu petani,” ujar Erichan.

Beliau menambahkan,

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi koperasi, dua pangkalan LPG sudah beroperasi di Kecamatan Barangin dan Lembah Segar. Unit usaha ini menjadi sumber pendapatan stabil bagi anggota.

Langkah berikutnya lebih besar. Koperasi sedang mengurus izin usaha pertambangan batubara sebagai bagian dari strategi diversifikasi jangka panjang.

“Kami tidak ingin berhenti di sini. Visi kami adalah menjadikan koperasi sebagai wadah ekonomi masyarakat yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan,” katanya.

Pengurus berharap Pemerintah Kota Sawahlunto bisa memberi dukungan lebih dari sekadar perizinan. Fasilitasi pengembangan usaha, bantuan sarana produksi, dan akses pasar jadi kebutuhan mendesak saat ini.

“Kami ingin pemerintah daerah hadir aktif, tidak hanya di proses administrasi, tapi juga membantu membuka pasar agar produk kami sampai ke masyarakat luas. Kalau usaha ini jalan, dampaknya langsung ke ekonomi warga,” tutup Erichan.

Dengan pendekatan koperasi dan pemanfaatan sumber daya lokal, Swarna Migas Mandiri berpeluang menjadi contoh konkret penguatan ekonomi kerakyatan di Sawahlunto. Model ini sekaligus menjawab tantangan hilirisasi limbah industri dan ketahanan pangan melalui pupuk organik.

Pos terkait