Kemenangan Mutlak Mengantarkan Pria Yang Dikenal Bersahaja Ini Kembali Memimpin Untuk Periode Ke-6 kalinya Sebagai Ketua Rt Dikota Lubuklinggau

LUBUKLINGGAU – SUARA PANCASILA.ID – Keberhasilan Munzir kembali terpilih sebagai Ketua RT 01 Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, dalam pemilihan yang digelar Sabtu (13/6/2026) lalu, mencatatkan rekor tersendiri. Kemenangan mutlak dengan meraih 64 suara dari total 120 suara sah ini mengantarkan pria yang dikenal bersahaja tersebut memimpin untuk periode ke-6 kalinya.

 

Sebagai salah satu Ketua RT paling senior di Kota Lubuklinggau, kepercayaan yang terus mengalir dari warga selama puluhan tahun tentu bukan tanpa alasan. Pengalaman panjangnya dalam mengomandoi lingkungan terkecil di masyarakat ini menjadi potret nyata dari kepemimpinan yang mengakar.

Bacaan Lainnya

Saat diwawancarai pasca-pemilihan, Munzir menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas amanah berkelanjutan yang diberikan oleh warganya. Namun, alih-alih larut dalam euforia kemenangan, ia justru memberikan wejangan dan pesan menyentuh yang ditujukan khusus bagi para Ketua RT baru yang akan atau baru saja menjabat di Kota Sebiduk Semare.

Menurut Munzir, menjadi Ketua RT di era sekarang memiliki tantangan yang dinamis, namun kunci utamanya tetap berada pada keikhlasan dalam mengabdi.

“Menjadi Ketua RT itu bukan soal gagah-gagahan atau merasa jadi pejabat. Kita ini adalah pelayan. Jadi sebutan ‘pamong’ itu artinya kita yang mengemong warga, bukan warga yang melayani kita,” ujar Munzir membuka perbincangan.

Ia kemudian membagikan lima poin penting yang selalu ia pegang teguh hingga bisa bertahan dan terus dipercaya warga selama enam periode berturut-turut:

1. Posisikan Diri Sebagai Pelayan, Bukan Penguasa

Munzir menegaskan bahwa pintu rumah seorang Ketua RT harus selalu terbuka 24 jam untuk urusan warga. Pelayanan administrasi, mulai dari pengurusan surat pengantar hingga bantuan darurat, harus dilakukan secara cepat, ramah, dan tanpa tebang pilih.

“Kalau kita ikhlas mempermudah urusan warga, maka warga dengan sendirinya akan menaruh rasa hormat dan segan kepada kita,” tuturnya.

2. Hadir di Tengah Warga, Baik Saat Suka Maupun Duka

Menurutnya, kedekatan emosional adalah fondasi terkuat dalam memimpin lingkungan. Kehadiran fisik seorang RT saat warga tertimpa musibah kemalangan, sakit, atau sebaliknya saat sedang mengadakan hajatan, merupakan bentuk kepedulian yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.

“Sentuhan personal di saat-saat krusial seperti itulah yang akan menumbuhkan rasa kekeluargaan yang kuat. Anggaplah semua warga itu bagian dari keluarga besar kita sendiri,” tambah Munzir.

3. Hilangkan Sekat Politik Pasca-Pemilihan

Bagi para RT baru yang terpilih melalui proses pemungutan suara yang dinamis, Munzir berpesan agar segera merangkul kembali seluruh warga, termasuk mereka yang kemarin tidak memilihnya.

“Kompetisi sudah selesai. Jangan ada lagi kotak-kotak pendukung nomor satu, dua, atau tiga. Mulai hari ini, semuanya adalah warga kita yang wajib kita ayomi dan lindungi secara adil.”

4. Mengedepankan Transparansi dan Musyawarah

Kunci kepercayaan warga, lanjut Munzir, terletak pada keterbukaan informasi. Setiap program kerja, penggunaan kas RT, hingga penyaluran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah harus disampaikan secara transparan melalui forum musyawarah.

“Jika warga melihat pemimpinnya jujur dan terbuka, maka tidak akan ada ruang untuk prasangka buruk atau kecurigaan. Yang tumbuh justru rasa percaya penuh,” jelasnya.

5. Menjaga dan Menghidupkan Tradisi Gotong Royong

Di tengah gempuran zaman yang cenderung individualistis, peran RT sangat sentral untuk menyatukan warga. Munzir menyarankan agar program siskamling, kerja bakti berkala, dan kegiatan sosial lainnya terus digalakkan. Melalui kegiatan berkumpul itulah silaturahmi antar-tetangga akan tetap terjaga erat.

Menutup perbincangan, RT senior ini menyemangati rekan sejawatnya yang baru akan memulai pengabdian. Ia mengakui bahwa secara materi, insentif menjadi Ketua RT mungkin tidak seberapa, namun nilai pengabdiannya sangat tak ternilai.

“Gaji RT itu kalau dihitung pakai matematika manusia memang kecil, tapi percayalah, waktu, tenaga, dan pikiran yang kita hibahkan untuk ketenteraman lingkungan akan dicatat sebagai ladang amal jariyah yang luar biasa. Selamat bertugas untuk rekan-rekan RT baru di Lubuklinggau, mari kita bangun kota kita tercinta ini mulai dari keharmonisan di lingkungan terkecil kita masing-masing,” pungkas Munzir dengan senyum khasnya.

suarapancasilaid'

Pos terkait