NASIONAL, SUARA PANCASILA.ID – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya kolaborasi antara kebudayaan dan teknologi dalam memajukan budaya Indonesia.Menurut dia, hilirisasi kebudayaan juga membutuhkan keterlibatan ilmu pengetahuan, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Fadli Zon dalam Public Lecture saat pembukaan Pagelaran Budaya ‘Karya Raya FTUI 2026’ di Auditorium K.301 Adi Karsa Keteknikan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Selasa (11/8).
“Teknologi dapat membuka banyak ruang untuk mengembangkan kebudayaan, mulai dari kecerdasan artifisial, teknologi digital, desain, arsitektur, hingga produksi seni dan budaya,” ujar Fadli Zon. Pandangan tersebut relevan dengan penyelenggaraan Karya Raya FTUI 2026 yang mempertemukan engineering, innovation, dan culture.
Melalui kegiatan itu, FTUI menghadirkan kebudayaan tidak hanya sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara karya, teknologi, inovasi, dan nilai-nilai budaya Indonesia.
Fadli Zon berharap Karya Raya dapat berkembang sebagai bagian dari ekosistem seni dan budaya Indonesia. Menurutnya, kegiatan seperti Karya Raya dapat membuka ruang kolaborasi antara dunia seni, budaya, teknologi, dan pendidikan.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Indonesia Prof. Mahmud Sudibandriyo menyampaikan nilai-nilai budaya menjadi fondasi agar inovasi tetap berorientasi pada kemanusiaan, keberlanjutan, dan kepentingan masyarakat di tengah transformasi digital dan perkembangan teknologi.
“Universitas Indonesia meyakini perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk merawat kebudayaan, memperkuat karakter bangsa, serta menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan yang mampu menjawab tantangan masa depan,” kata Prof. Mahmud. Di lokasi yang sama, Dekan FTUI Prof. Kemas Ridwan Kurniawan menyampaikan teknologi dan budaya tidak dapat dipandang sebagai dua hal yang berjalan sendiri-sendiri.
Perkembangan teknologi perlu tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan kepentingan masyarakat. “Teknologi lahir dari budaya, memengaruhi budaya, dan harus mampu memberi manfaat bagi manusia dan masyarakat. Inilah semangat yang ingin kami bangun melalui Karya Raya FTUI 2026,” jelas Kemas. Menurutnya, semangat tersebut juga tercermin dalam pembentukan insan teknik yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi memiliki karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap budaya.
“Kami juga ingin membangun manusia dan lingkungan akademik yang memiliki karakter, kreativitas, kepedulian terhadap budaya, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya. Adapun, Pagelaran Budaya ‘Karya Raya FTUI 2026’ merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 FTUI.
Kegiatan itu menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk merayakan karya sekaligus memperkuat apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia. Rangkaian Karya Raya menghadirkan berbagai kegiatan yang mempertemukan karya dan ekspresi sivitas akademika, antara lain pameran budaya, pameran inovasi dan industri, serta pertunjukan seni.
Salah satu pertunjukan yang dihadirkan dalam Karya Raya FTUI 2026 adalah pentas tari Papua oleh CEP CCIT, yang membawakan lagu Mambo Simbo, Dibaye Dibayo, dan Apuse. Penampilan tersebut menggambarkan kekayaan budaya dan semangat kebersamaan masyarakat Papua.











