Sakral dan Meriah, Atraksi Bantengan di Losari Wagir Banjir Penonton

KABUPATEN MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA.ID – Suasana berbeda terasa di wilayah Losari, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Minggu (27/9/2026). Padepokan Pencak Silat dan Kesenian Bantengan Tresno Sejati Wagir menggelar atraksi kesenian tradisional yang berlangsung meriah sekaligus menghadirkan nuansa sakral.

Sejak pagi, warga mulai memadati sejumlah ruas jalan yang menjadi jalur arak-arakan. Aroma bunga, dupa, kemenyan hingga parfum tercium di tengah kerumunan penonton yang antusias menyaksikan rangkaian pertunjukan.

Kegiatan diawali dengan arak-arakan mengelilingi Dusun Losari. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan berbagai atraksi kesenian hingga menjelang Magrib.

Bacaan Lainnya

Sejumlah kelompok kesenian Bantengan turut ambil bagian, di antaranya Turonggo Tresno Sejati, Putro Sejati Nuswantoro, Jaya Pandyarya, Rukun Djoyo Sedjati serta sejumlah grup lainnya.

Tidak hanya Bantengan, masyarakat juga disuguhi berbagai atraksi lain seperti Barongsai, Jelangkung, Leak dan pertunjukan tradisional lainnya. Setiap penampilan mendapat perhatian penuh dari penonton yang memenuhi lokasi acara.

Pemilik Padepokan Pencak Silat dan Kesenian Bantengan Tresno Sejati Wagir, Riaman Jlangkung, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kesenian tradisional, tetapi juga menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat.

Menurutnya, terselenggaranya kegiatan tersebut tidak lepas dari kekompakan dan gotong royong warga Losari. Dukungan masyarakat menjadi bagian penting sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan meriah.

“Yang paling utama adalah kebersamaan. Kegiatan seperti ini bisa terlaksana karena warga saling membantu dan bergotong royong. Kami ingin kesenian tradisional tetap hidup dan terus dikenal masyarakat,” ujar Riaman.

Riaman menambahkan, keterlibatan berbagai kelompok kesenian juga menunjukkan bahwa Bantengan dan kesenian tradisional lainnya masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

Suasana pertunjukan semakin terasa kuat ketika para pelaku kesenian mulai memainkan karakter dan atraksi masing-masing. Kepulan asap dupa dan kemenyan berpadu dengan aroma bunga serta parfum yang digunakan dalam rangkaian pertunjukan, menciptakan atmosfer yang oleh warga dan penonton terasa khidmat dan sakral.

Di tengah suasana tersebut, sorak dan decak kagum penonton terdengar setiap kali atraksi menarik ditampilkan. Sejumlah penonton bahkan terlihat mengabadikan pertunjukan menggunakan telepon seluler.

“Sangat menarik. Bukan hanya Bantengan, ada Barongsai, Jelangkung dan atraksi lainnya. Suasananya juga terasa berbeda, apalagi ketika dupa dan kemenyan mulai mengepul,” kata salah seorang penonton.

Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya penonton yang bertahan mengikuti pertunjukan sejak siang hingga mendekati waktu Magrib.

Bagi masyarakat Losari, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan. Atraksi kesenian menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, sekaligus menunjukkan semangat gotong royong warga dalam menjaga keberadaan kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.

Rangkaian kegiatan pun berlangsung semarak hingga sore hari dengan berbagai atraksi yang silih berganti. Semangat para pelaku seni dan antusiasme masyarakat menjadikan Losari dipenuhi suasana budaya yang khas, dari arak-arakan pagi hingga pertunjukan menjelang Magrib.

suarapancasilaid'

Pos terkait