Tabur Bunga di Pusara Konseptor Pancasila, Pemuda Pancasila Sumbar : Kami Produk Sejarah, Tak Bisa Dihapus

SAWAHLUNTO (SUMBAR)- SUARA PANCASILA.ID–Pesan tegas keluar dari Taman Makam Pahlawan Prof. Mr. Mohamad Yamin, SH di Talawi, Kota Sawahlunto, Sabtu 13/6/2026. H. Herman, Penasehat Forum Senior Pemuda Pancasila Provinsi Sumatera Barat, menyatakan Ormas Pemuda Pancasila tidak akan bubar selama falsafah negara masih Pancasila.

Pernyataan itu disampaikan usai upacara penghormatan pahlawan, peletakan karangan bunga, dan tabur bunga di makam salah satu konseptor Pancasila. Kegiatan ini digelar Forum Senior PP Sumbar untuk memperingati 81 Tahun Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 1945 – 1 Juni 2026.

Di hadapan puluhan pengurus dan anggota, H. Herman bersama M. Taufik, sesepuh Forum Senior PP Sumbar, membongkar akar sejarah organisasi.

Bacaan Lainnya

“Pemuda Pancasila lahir 28 Oktober 1959 dari rahim Ibu Pertiwi. Pendirinya Jenderal TNI A.H. Nasution. Saat itu negara butuh piranti untuk menekan penyebaran paham komunisme. Jadi kami ini produk sejarah, bukan ormas yang tiba-tiba muncul,” tegas H. Herman menjawab pertanyaan wartawan _suarapancasila.id_.

Menurutnya, legalitas historis inilah yang membuat Pemuda Pancasila berbeda. Organisasi ini lahir atas perintah negara untuk menjaga ideologi bangsa. Selama Pancasila masih jadi dasar negara, selama itu pula Pemuda Pancasila punya alasan eksistensi.

“Kalau dasar negaranya masih Pancasila, UUD 1945 masih berlaku, dan NKRI masih utuh, maka Pemuda Pancasila tidak akan bubar. Itu logika sederhananya,” sambung M. Taufik senada.

Ziarah ini diikuti lebih kurang 100 anggota dan pengurus Forum Senior PP Sumbar. Mereka terdiri dari mantan pengurus MPW, MPC, PAC, PAR, dan Rekan Juang Pemuda Pancasila dari berbagai daerah di Sumbar.

Turut hadir pimpinan MPW, MPC, PAC, Srikandi, serta perwakilan seluruh sayap organisasi Pemuda Pancasila se-Provinsi Sumatera Barat. Upacara berlangsung khidmat dengan penghormatan, mengheningkan cipta, peletakan karangan bunga, dan tabur bunga di pusara Prof. Moh. Yamin.

Bagi Pemuda Pancasila, Prof. Moh. Yamin bukan sekadar pahlawan. Ia adalah pendiri negara dan otak di balik lahirnya Pancasila. Ziarah ke makamnya jadi wujud nyata pengamalan nilai-nilai dasar organisasi.

“Kami datang ke sini bukan seremoni. Ini napak tilas. Kami ingin anak-cucu tahu, nilai Pancasila yang diperjuangkan pendiri bangsa harus terus dijaga dan diamalkan,” ujar H. Herman.

Momen ziarah ini juga jadi panggung Forum Senior untuk merespons wacana pembubaran ormas yang belakangan mengemuka, termasuk yang datang dari oknum anggota DPR-RI.

H. Herman mengajak semua pihak, terutama pembuat kebijakan, untuk mempelajari dulu sejarah perjuangan bangsa sebelum membuat pernyataan.

“Kalau ada oknum anggota DPR-RI atau pihak lain yang ingin membubarkan Pemuda Pancasila, silakan pelajari dulu sejarahnya. Kami lahir dari perintah negara untuk menjaga negara. Jadi jangan dibalik,” tegasnya.

Ia menambahkan, komitmen Pemuda Pancasila tidak pernah berubah sejak 1959 hingga hari ini: Pancasila, UUD 1945, dan NKRI harga mati.

“Silakan bubarkan kalau Pancasila sudah tidak ada lagi di negeri ini. Tapi selama bendera Merah Putih masih berkibar dan Pancasila masih jadi pedoman, maka Pemuda Pancasila akan terus ada di garda terdepan menjaga keutuhan bangsa,” tutup M. Taufik.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk arwah para pahlawan dan keselamatan bangsa. Forum Senior berharap nilai-nilai Pancasila yang diperjuangkan Moh. Yamin terus jadi panduan generasi muda.

suarapancasilaid'

Pos terkait