SAWAHLUNTO (SUMBAR )-SUARA PANCASILA.ID-Setelah hampir setahun menanti kepastian, para pedagang Pasar Silo akhirnya menghela napas lega.
Pemerintah Kota Sawahlunto dan Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto atau APESISTO sepakat membuka 3 lokasi sementara untuk berjualan. Langkah ini diambil sembari menunggu proses penataan kawasan relokasi yang masih tertahan status lahan.
Kesepakatan itu diketuk dalam pertemuan Diskoperindag Kota Sawahlunto bersama puluhan pedagang di Sekretariat APESISTO, Selasa 28 Juli 2026.
Kepala Diskoperindag Kota Sawahlunto Tatang Sumarna mengakui, pemerintah memahami keresahan pedagang. Sepi pembeli, minim penerangan, dan ketidakjelasan masa depan Pasar Silo membuat para pedagang resah.
Pemko sejauh ini terus bernegosiasi dengan PT Bukit Asam atau PTBA selaku pemilik lahan. Namun pembahasan mentok karena urusan status penguasaan lahan belum selesai.
“Kami terus berdiskusi dengan PTBA. Tujuannya satu: percepatan pengembangan kawasan ini segera terwujud,” kata Tatang.
Sebelumnya PTBA menawarkan dana CSR untuk membangun. Tapi skema itu kandas. Aturan melarang CSR dipakai untuk aset perusahaan sendiri.Kabar baiknya, dalam pertemuan dengan GM PTBA UPO di hari yang sama, dipastikan pembangunan tetap jalan. Hanya saja skema pembiayaannya diubah, tidak lagi lewat CSR.
Pemko juga menggandeng Kejaksaan Negeri Sawahlunto agar semua proses anggaran dan pembangunan nantinya aman secara hukum.
Daripada menunggu tanpa kepastian, pemerintah memberi ruang gerak. Tiga lokasi sementara resmi dibuka untuk pedagang:
1. Depan Bank Mandiri
2. Kawasan Gedung Pusat Kebudayaan atau GPK Untuk pedagang pagi hingga malam_
3. Depan Sekretariat KONI Khusus pedagang sore hingga malam_
Ada catatannya. Jaga kebersihan, jaga ketertiban, dan jangan tinggalkan gerobak setelah jualan.
“Kawasan Taman Lapangan Segitiga tetap steril. Tidak boleh untuk berdagang,” tegas Tatang.Ia memastikan ini hanya sementara. Begitu penataan Pasar Silo selesai, semua pedagang wajib kembali ke lapak di kawasan relokasi.
Ketua APESISTO Marjafri menyambut baik keputusan ini. Tapi ia juga menitip pesan agar tidak ada lagi kebijakan yang berubah-ubah.”Ini opsi yang sama pernah muncul. Dulu hanya untuk pedagang pagi di Terminal. Pedagang malam belum dapat tempat karena bentrok Perda dan status jalan,” ungkapnya.
Menurutnya, sejak relokasi 20 Agustus tahun lalu, pedagang hidup dalam ketidakpastian. Ditambah pemberitaan yang menyebut pedagang “manja” dan bergantung bantuan.
“Yang kami minta bukan bantuan. Kami minta kepastian. Biar bisa dagang tenang, biar usaha bisa tumbuh,” tegasnya.Marjafri juga menyoroti Pasar Silo yang gelap di malam hari dan penertiban yang belum adil.
“Ada yang masih nekat jualan di tempat terlarang. Sementara kami yang taat aturan malah sepi. Ini yang bikin tidak adil,” ujarnya.Meski begitu, ia mengapresiasi ikhtiar Pemko. Dengan 3 lokasi baru ini, pedagang bisa kembali bergerak dan mencari rezeki.
“APESISTO akan kawal. Kami minta semua pedagang patuh aturan dan jaga kebersihan. Semoga ini jadi awal yang baik, membawa berkah untuk semua keluarga kami,” pungkasnya.











