Tasyakuran Ulang Tahun Tommy Johan Agusta Warnai Launching Joglo Seminingrat, Jadi Ruang Pelestarian Tosan Aji dan Budaya Nusantara

KOTA MALANG (JATIM),SUARAPANCASILA,ID– Suasana hangat penuh nuansa budaya mewarnai acara Launching Joglo Seminingrat yang dirangkai dengan Temu Kangen dan Diskusi Tosan Aji, sekaligus menjadi momen tasyakuran ulang tahun pendiri Joglo Seminingrat, Tommy Johan Agusta, di Jalan Graha Kencana Raya Utara Nomor 23, Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Rabu (5/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri para pecinta keris, pemerhati tosan aji, budayawan, kolektor, serta masyarakat dari Malang Raya maupun berbagai daerah di Indonesia. Selain menjadi ajang silaturahmi, acara ini juga menghadirkan diskusi mengenai pelestarian warisan budaya Nusantara serta menyediakan meja bursa bagi kolektor yang ingin memamerkan koleksinya.

Pendiri Joglo Seminingrat, Tommy Johan Agusta yang juga dikenal dengan nama pena Begawan Ciptaning Mintaraga, mengatakan Joglo Seminingrat lahir sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian sejarah dan budaya Jawa, khususnya sejarah Kerajaan Singosari.

Bacaan Lainnya

Menurut Tommy, nama Seminingrat diambil dari gelar Raja Wisnuwardhana, yakni Sri Jaya Wisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalanakulama Dharmadana Tumaleksana, yang dikenal memimpin Singosari pada masa stabil dan penuh kejayaan.

“Nama ini kami pilih sebagai doa dan harapan agar Joglo Seminingrat dapat berkembang seperti masa keemasan Singosari, sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap sejarah daerahnya sendiri,” ujar Tommy.

Joglo Seminingrat sendiri mulai dirintis pada Agustus 2025 dan resmi beroperasi pada Juni 2026. Konsepnya memadukan galeri budaya dengan warung makan bernuansa tradisional Jawa.

Selain menyajikan menu seperti Soto Banjar, ayam goreng, dan bebek goreng, tempat tersebut juga dipenuhi berbagai koleksi budaya berupa keris, tombak, wayang, buku-buku referensi keris dan wayang, hingga lukisan karya putra pemilik.

Tommy mengungkapkan, kecintaannya terhadap dunia koleksi justru berawal dari kegemarannya mengoleksi komik klasik karya Jan Mintaraga dan Tatang S. Ketertarikannya terhadap keris muncul setelah menerima sebilah keris sebagai wasiat dari sang kakek yang merupakan seorang dalang.

“Dulu saya justru koleksi komik. Keris itu berawal dari peninggalan kakek saya yang seorang dalang. Setelah menerima satu keris, lama-kelamaan saya ingin menambah koleksi hingga akhirnya menjadi banyak seperti sekarang,” tuturnya.

Ia menegaskan seluruh koleksi yang ada di Joglo Seminingrat merupakan koleksi pribadi yang tidak diperjualbelikan.

“Banyak pengunjung bertanya apakah koleksi ini dijual. Jawabannya tidak. Wayang maupun keris di sini hanya untuk dinikmati, dipelajari, dan menjadi sarana edukasi budaya,” katanya.

Dalam mencari benda koleksi, Tommy mengaku tidak pernah memiliki daftar barang yang ingin dibeli. Ia lebih mengandalkan intuisi saat mengunjungi pasar barang antik seperti Pasar Comboran di Malang maupun Pasar Triwindu di Solo.

“Saya biasanya tidak tahu sedang mencari apa. Tapi ketika melihat barang yang unik dan menarik perhatian, saat itulah saya memutuskan untuk membawanya pulang menjadi koleksi,” ujarnya.

Menurutnya, Joglo Seminingrat sengaja mengusung konsep rumah Joglo sebagai simbol bahwa budaya Jawa merupakan milik seluruh masyarakat Jawa, bukan hanya identik dengan Solo atau Yogyakarta.

Ia berharap kehadiran Joglo Seminingrat dapat menjadi ruang berkumpul bagi budayawan, seniman, kolektor, akademisi, hingga generasi muda untuk berdiskusi, belajar, dan melestarikan budaya Nusantara.

Keunikan lain yang dihadirkan adalah perpaduan budaya Jawa dan Bali melalui berbagai koleksi, termasuk wayang kaca khas Bali yang menjadi salah satu ikon tempat tersebut.

Pada hari biasa, Joglo Seminingrat melayani pengunjung setiap Senin hingga Jumat pukul 09.30–17.00 WIB. Sementara untuk kunjungan di luar jam operasional, pengelola membuka layanan reservasi sehingga masyarakat tetap dapat menikmati suasana budaya hingga malam hari.

Melalui peluncuran Joglo Seminingrat yang bertepatan dengan tasyakuran ulang tahunnya, Tommy berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai warisan budaya bangsa, khususnya keris dan tosan aji, sehingga nilai-nilai sejarah dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.

suarapancasilaid'

Pos terkait