KOTA MALANG (JATIM),SUARAPANCASILA,ID- Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Arjosari bersama Takmir Mushola Sabilul Muttaqin menggelar Lailatul Ijtima’ sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu malam (23/8/2026), di Mushola Sabilul Muttaqin, Jalan Teluk Cendrawasih RT 03 RW 03, Arjosari, Blimbing, Kota Malang.
Kegiatan yang dihadiri warga Nahdliyin serta jajaran badan otonom NU setempat, seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU dan Pagar Nusa tersebut mengangkat tema “Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Membangun Indonesia yang Berakhlak.”
Dalam tausiyahnya, Ust. Abdul Azis Masrib dari MWC NU Kedungkandang menyampaikan bahwa kepemimpinan Rasulullah SAW memberikan pelajaran penting dalam membangun masyarakat dan negara. Menurutnya, perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi harus diawali dengan membangun aqidah dan karakter manusia.
Ust. Abdul Azis menjelaskan, pada masa jahiliah di Makkah, Rasulullah SAW terlebih dahulu menanamkan aqidah kepada masyarakat. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah kemudian membangun komunitas yang mampu hidup berdampingan, saling melindungi dan bekerja sama meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda.
“Kalau kita praktikkan dari Rasulullah, untuk membangun negara itu membangun aqidah dulu, kemudian membangun manusianya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya,” tutur Ust. Abdul Azis dalam tausiyahnya.
Menurutnya, kehidupan masyarakat Madinah pada masa Rasulullah juga memberikan contoh mengenai pentingnya kesepakatan bersama dalam menjaga kehidupan berbangsa. Piagam Madinah menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat hidup berdampingan dalam satu tatanan bersama.
Dalam konteks Indonesia, ia mengajak masyarakat memahami Pancasila sebagai dasar negara yang menjadi kesepakatan bersama. Pancasila memang bukan simbol agama Islam, namun nilai-nilainya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, terutama dalam hal persatuan, kemanusiaan, keadilan dan kehidupan bermasyarakat.
Ust. Abdul Azis juga menyinggung hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Ia mengingatkan agar kritik terhadap kebijakan pemerintah tetap dilakukan melalui jalur yang sesuai dengan aturan dan tidak berubah menjadi sikap permusuhan atau pemberontakan terhadap negara.
Menurutnya, pemerintahan yang terbentuk melalui pemilu merupakan pemerintahan yang sah. Jika terdapat ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah, masyarakat memiliki mekanisme konstitusional untuk menyampaikan aspirasi maupun menentukan pilihan politik pada pemilu berikutnya.
“Kalau tidak sepakat dengan pemerintah, ada tata caranya. Jangan menjadi pemberontak di negeri sendiri. Pemerintah sekarang sudah sah, hasil pemilu juga sah. Kalau tidak sepakat, minimal tunggu sampai pemilu lagi,” pesannya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjalankan kewajiban sebagai warga negara, termasuk memenuhi kewajiban perpajakan, sekaligus tetap kritis terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Menurutnya, membayar pajak merupakan bagian dari kewajiban warga negara, sedangkan pengawasan terhadap pemerintah dapat dilakukan melalui cara-cara yang sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku.
Selain itu, jamaah diajak untuk menjaga sikap saling menghormati antarwarga meskipun berbeda agama maupun latar belakang. Semangat tersebut dinilai penting dalam menjaga persatuan Indonesia yang memiliki keberagaman masyarakat.
“Rasulullah memberikan contoh bagaimana masyarakat yang berbeda agama bisa saling melindungi dan bekerja sama. Itu yang harus kita teladani dalam kehidupan berbangsa,” jelasnya.
Peringatan Maulid Nabi tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Semangat keagamaan juga dipadukan dengan kecintaan terhadap bangsa dan daerah.
Antusiasme jamaah semakin terasa ketika sejumlah yel-yel kebangsaan dan ke-NU-an menggema, di antaranya “Siapa Kita? NU!”, “NKRI Harga Mati!”, “Pancasila Jaya!”, hingga “Salam Satu Jiwa! Arema!”.
Kegiatan Lailatul Ijtima’ dan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut ditutup dengan doa bersama. Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya meneladani Rasulullah SAW dengan membangun manusia yang beriman, berakhlak, saling menghormati, menjaga persatuan serta ikut bertanggung jawab terhadap kehidupan bangsa dan negara.











