EMPAT LAWANG, SUARA PANCASILA.ID – Pemerintah Kabupaten empat lawang terus berupaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) para pekebun.
Salah satunya dengan mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 85 peserta asal Kabupaten Empat Lawang dalam rangka Pengembangan SDM perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan VII, VIII, dan IX di sumsel yang berlangsung pada 29 Juni hingga 4 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan program BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) dan Direktorat Jenderal Perkebunan yang menggandeng IPB Training sebagai lembaga penyelenggara pelatihan.Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Empat Lawang, Hendra Lezi, mengatakan produktivitas kelapa sawit di wilayahnya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Sumatera Selatan.
Hal itu karena pengembangan komoditas sawit di Empat Lawang relatif baru dimulai beberapa tahun terakhir.”Perkebunan kelapa sawit mulai berkembang sekitar tahun 2018. Saat saya mulai menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan pada 2022, luas arealnya baru sekitar 1.000 hektare. Kini dalam empat tahun terakhir sudah berkembang menjadi sekitar 7.000 hektare,” ujarnya.
Selain luas lahan yang bertambah, jumlah produksi pun meningkat dalam dua tahun terakhir. Dimana saat 2024 hasil panen 6.100 ton, pada 2025 naik menjadi 12.120 ton.
Hendra menjelaskan, selama ini Kabupaten Empat Lawang dikenal sebagai daerah penghasil kopi dan karet.Namun, dalam beberapa tahun terakhir sebagian masyarakat mulai mengalihfungsikan lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.
Menurutnya, sawit memberikan kepastian pendapatan karena panen dapat dilakukan setiap dua minggu sekali dan hasilnya langsung dijual.Kondisi itu berbeda dengan komoditas karet yang sempat mengalami penurunan harga hingga di bawah Rp10.000 per kilogram.
Begitu pula saat harga kopi belum mencapai kisaran Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram, banyak pekebun memilih beralih ke kelapa sawit.
Meski perkembangannya cukup pesat, Hendra mengakui masih banyak kendala yang dihadapi para pekebun. Salah satunya adalah terbatasnya akses jalan menuju kebun sehingga menyulitkan proses pengangkutan hasil panen ke desa maupun ke lokasi penjualan.
Selain itu, sebagian besar masyarakat hanya memiliki lahan sawit seluas satu hingga dua hektare. Upaya memperluas areal tanam juga terkendala minimnya alat berat untuk membuka lahan baru.
Permasalahan lain yang cukup krusial adalah penggunaan bibit. Keterbatasan modal membuat banyak petani tidak mampu membeli bibit unggul bersertifikat dan akhirnya menggunakan bibit yang berasal dari biji tumbuh alami yang belum terjamin kualitasnya.
“Persoalan utama adalah pemilihan bibit unggul. Melalui pelatihan ini kami berharap para pekebun mampu mengelola kebun secara profesional, memahami cara memilih bibit yang baik, pengelolaan kebun, kelembagaan, pemasaran, hingga teknik budidaya yang benar,” katanya.
Ia berharap setelah mengikuti pelatihan, para peserta mampu meningkatkan produktivitas kebun melalui penerapan teknik budidaya yang tepat, mulai dari pemilihan bibit, pemeliharaan hingga pemasaran hasil panen.
Sementara itu, Perwakilan Narasumber IPB Training, Prof. Dr. Hariyadi, MS, mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan pekebun mengenai budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan dan sesuai standar.
Materi yang diberikan meliputi aspek kelembagaan, legalitas lahan, pengembangan usaha, pemilihan bibit unggul, persiapan dan pembukaan lahan, hingga teknik pemeliharaan tanaman.
“Di empat lawang, budidaya sawit masih relatif baru dan mulai menghasilkan, sementara di daerah lain sudah memasuki tahap peremajaan atau replanting. Karena itu penting bagi petani memahami sejak awal teknik budidaya yang benar,” jelasnya.
Menurut Hariyadi, terdapat tiga kunci utama keberhasilan budidaya kelapa sawit, yakni penggunaan lahan yang sesuai, bibit unggul berkualitas, serta pemeliharaan dan pemupukan yang tepat.
Selain itu, legalitas lahan juga menjadi aspek penting agar usaha perkebunan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pekebun juga harus memahami teknik panen yang benar agar kualitas tandan buah segar tetap terjaga, menerapkan pengelolaan lingkungan yang baik, menggunakan pupuk yang jelas asal-usulnya, serta memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja.
Ia juga menekankan pentingnya kepemilikan sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai standar perkebunan sawit berkelanjutan.”Ke depan, sertifikat ISPO akan menjadi salah satu syarat penting dalam pemasaran hasil sawit. Jika tidak memiliki sertifikasi tersebut, pekebun berpotensi mengalami kesulitan dalam menjual hasil panennya,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait regulasi budidaya kelapa sawit, persiapan benih dan lahan, pemeliharaan tanaman, pemupukan pada tanaman belum menghasilkan maupun tanaman menghasilkan, hingga pengendalian hama dan penyakit.”Sehingga produktivitas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten empat lawang dapat terus meningkat,” katanya.











