Festival Dolanan Anak Tradisional di GOR Ken Arok, Kenalkan 17 Permainan dan Tanamkan Nilai Karakter Sejak Dini

KOTA MALANG (JATIM),SUARAPANCASILA,ID- Upaya melestarikan permainan tradisional sekaligus mendukung tumbuh kembang anak terus dilakukan melalui Festival Dolanan Anak Tradisional yang digelar di Gelanggang Olahraga (GOR) Ken Arok, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi sarana mengenalkan kembali permainan warisan budaya Indonesia kepada anak-anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Sebanyak 17 permainan tradisional diperkenalkan dalam festival yang diikuti anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kecamatan Kedungkandang tersebut. Selain memperoleh penjelasan tentang tata cara bermain, peserta juga berkesempatan mencoba langsung berbagai permainan yang mengandung nilai edukasi, seperti kerja sama, sportivitas, kejujuran, kesabaran, dan kebersamaan.

Camat Kedungkandang, Fahmi Fauzan AZ, yang hadir membuka kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa permainan tradisional dapat menjadi alternatif aktivitas anak yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendukung perkembangan kemampuan sosial dan emosional.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kegiatan ini juga sejalan dengan Dasa Bakti Unggulan Kota Malang, yakni Ngalam Asyik dan Ngalam Pinter, yang mendorong terciptanya lingkungan masyarakat yang menyenangkan sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

“Digitalisasi tidak bisa dihindari. Karena itu, permainan tradisional yang dikenalkan hari ini bisa menjadi penyeimbang. Anak-anak tidak hanya bermain gadget, tetapi juga membangun keakraban bersama orang tua dan teman-temannya,” jelas Fahmi.

Ia menuturkan, permainan tradisional memiliki manfaat penting dalam melatih kemampuan motorik, kecerdasan sosial, serta kecerdasan emosional anak. Oleh sebab itu, upaya memperkenalkan permainan tradisional perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan festival semata.

Fahmi berharap, pemerintah kelurahan, sekolah, serta lembaga pendidikan seperti taman kanak-kanak (TK) dan PAUD dapat mengambil peran aktif dalam mengenalkan berbagai permainan tradisional kepada anak sejak usia dini.

Selain lingkungan pendidikan, keterlibatan orang tua juga dinilai penting agar permainan tradisional dapat menjadi aktivitas bersama di lingkungan keluarga.

“Permainan seperti engklek dan gobak sodor mungkin sudah mulai jarang dimainkan. Kita berharap permainan-permainan lama ini terus hidup agar anak-anak dapat tumbuh dengan kecerdasan sosial dan emosional yang baik,” harapnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kecamatan Kedungkandang, Hannie Purwandari, mengatakan bahwa Festival Dolanan Anak Tradisional merupakan bagian dari upaya pemberdayaan lembaga kemasyarakatan di tingkat kelurahan dan kecamatan.

Menurut Hannie, kegiatan tersebut memiliki sejumlah tujuan, mulai dari mengenalkan kembali permainan tradisional sejak usia dini, mendorong aktivitas bermain yang sehat dan aktif, hingga mengembangkan kreativitas, kemampuan motorik, serta sikap sportif anak.

Ia menambahkan, permainan tradisional juga menjadi media pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai kesabaran, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Di sisi lain, festival ini turut memperkuat sinergi antara pemerintah, TP PKK, lembaga pendidikan, dan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan.

“Harapannya, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara digital, sehat secara fisik, matang secara sosial, dan tetap memiliki akar budaya yang kuat,” pungkas Hannie.

Melalui Festival Dolanan Anak Tradisional, permainan warisan budaya diharapkan tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan anak-anak masa kini.

Dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga, permainan tradisional dapat terus dimanfaatkan sebagai ruang belajar, berinteraksi, membangun karakter, serta mempererat kebersamaan sejak usia dini.

suarapancasilaid'

Pos terkait