JOMBANG (JATIM).SUARAPANCASILA.ID – Kabupaten Jombang memiliki kekayaan kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah Wayang Topeng Jatiduwur yang lahir dan berkembang di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.(15/9/2026)
Miftakhul Janah (20Thn) asal Dusun Kayen, Ds.Mojotengah, Kec.Bareng, adalah Finalis Duta Budaya Jawa Timur salah satu
Mahasiswi Universitas PGRI Jombang tergugah hatinya untuk menyalurkan bakatnya di bidang kebudayaan, khususnya di Kabupaten Jombang agar tetap terjaga kelestariannya sebagai warisan budaya Nasional
Miftakhul menulis tentang digelarnya pertunjukan kesenian wayang orang.Kesenian ini menghadirkan cerita Panji melalui pertunjukan wayang orang dengan menggunakan topeng sebagai penanda karakter tokoh. Keberadaan Wayang Topeng Jatiduwur tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Jombang, tetapi memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif masyarakat.
Pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur memiliki ciri khas berupa penggunaan topeng pada setiap karakter yang dimainkan. Keberadaan dalang menjadi bagian penting dalam jalannya pertunjukan. Dalang mengatur alur cerita, membawakan narasi dan dialog, serta memberikan aba-aba kepada para penari. Penari menampilkan karakter tokoh melalui gerak tubuh dengan topeng sebagai identitas tokoh yang diperankan.
Cerita Panji, karakter tokoh, gerak tari, musik pengiring, serta penggunaan topeng menjadi satu kesatuan yang membentuk identitas Wayang Topeng Jatiduwur.Kekhasan tersebut menjadi daya tarik yang dapat dikenalkan kepada masyarakat di luar Jombang. Pertunjukan tradisional yang memiliki karakter kuat memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai atraksi budaya yang memberikan pengalaman berbeda bagi penonton.
Sejarah Wayang Topeng Jatiduwur tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Ki Purwo yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan kesenian tersebut. Topeng-topeng yang digunakan dalam Wayang Topeng Jatiduwur diyakini merupakan warisan Ki Purwo.
Koleksi tersebut berjumlah 33 topeng dan hingga kini masih dijaga oleh keturunannya. Topeng-topeng tersebut memiliki nilai sejarah dan dipercaya memiliki nilai sakral oleh masyarakat setempat. Kepercayaan tersebut membuat keberadaan topeng asli tetap mendapatkan perlakuan khusus. Salah satu karakter yang dikenal adalah Topeng Klono yang memiliki ciri khas warna emas dan menggambarkan karakter priyayi sekaligus kesatria.
Nilai sejarah dan karakter visual yang melekat pada topeng menjadi kekuatan tersendiri bagi Wayang Topeng Jatiduwur.
Bentuk setiap karakter dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan produk kreatif yang membawa identitas budaya Jombang. Peluang ekonomi dapat dikembangkan melalui produk turunan yang terinspirasi dari karakter Wayang Topeng Jatiduwur.
Topeng berukuran kecil, gantungan kunci, kaus, aksesori, hiasan, miniatur, serta berbagai cendera mata dapat menjadi pilihan produk kreatif. Produk tersebut dapat ditujukan kepada penonton pertunjukan, wisatawan, masyarakat Jombang, maupun konsumen dari luar daerah.
Pengembangan produk tidak harus menggunakan topeng asli yang memiliki nilai sejarah dan kesakralan. Topeng duplikasi dapat digunakan untuk menghasilkan produk kreatif.
Desain karakter dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk tanpa menghilangkan ciri khas tokoh Wayang Topeng Jatiduwur.
Nilai ekonomi sebuah produk budaya tidak hanya terletak pada bentuk barang yang dihasilkan. Cerita yang berada di balik produk dapat menjadi bagian dari daya tariknya. Kisah mengenai Desa Jatiduwur, cerita Panji, 33 topeng warisan Ki Purwo, serta karakter-karakter dalam pertunjukan dapat dikemas sebagai informasi pendukung pada produk.
Kemasan dapat dilengkapi keterangan singkat mengenai karakter yang digunakan. Konsumen yang membeli suvenir tidak hanya memperoleh barang, tetapi dapat mengenal cerita mengenai kesenian tradisional yang menjadi sumber inspirasinya.
Cara tersebut dapat memberikan pembeda antara produk budaya lokal dengan suvenir biasa.
Pemasaran digital menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Wayang Topeng Jatiduwur secara lebih luas. Dokumentasi pertunjukan, bentuk topeng, proses pembuatan topeng, pengenalan karakter, serta cerita mengenai sejarah kesenian dapat dikemas menjadi konten media sosial. Konten tersebut dapat menyasar generasi muda yang lebih dekat dengan penggunaan media digital.
Informasi mengenai Wayang Topeng Jatiduwur dapat dikemas secara visual melalui foto, video pendek, ilustrasi karakter, maupun cerita singkat mengenai setiap tokoh. Promosi melalui media digital dapat membantu memperkenalkan kesenian Jatiduwur kepada masyarakat di luar Kabupaten Jombang.
Pengembangan ekonomi berbasis budaya membutuhkan keberlanjutan pelaku seni dan keterlibatan generasi muda. Regenerasi menjadi bagian penting agar Wayang Topeng Jatiduwur tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Generasi muda dapat dilibatkan tidak hanya sebagai penari, tetapi dalam berbagai kegiatan pendukung yang berkaitan dengan kesenian. Bidang dokumentasi, desain, fotografi, videografi, pengelolaan media sosial, pemasaran, pembuatan produk, hingga pengembangan kemasan dapat menjadi ruang keterlibatan generasi muda.
Keterampilan tersebut dapat dipadukan dengan pengetahuan mengenai budaya lokal sehingga pelestarian dan pengembangan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Wayang Topeng Jatiduwur memiliki modal budaya yang kuat melalui sejarah Desa Jatiduwur, cerita Panji, karakter topeng, serta tradisi masyarakat yang masih dipertahankan.
Kekayaan tersebut dapat menjadi dasar pengembangan produk ekonomi kreatif yang memiliki identitas lokal. Pengembangan ekonomi perlu tetap memperhatikan nilai budaya yang melekat pada Wayang Topeng Jatiduwur. Inovasi dapat dilakukan pada bentuk produk, desain, kemasan, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital.
Identitas kesenian tetap menjadi bagian utama agar pengembangan produk tidak kehilangan keterkaitannya dengan budaya Jatiduwur.
Pemerintah, pelaku seni, masyarakat, generasi muda, perajin, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha dapat mengambil peran dalam memperluas potensi tersebut.
Pementasan dapat dikembangkan sebagai atraksi budaya, sedangkan produk turunannya dapat menjadi cendera mata khas Jombang. Kolaborasi berbagai pihak dapat membuka peluang bagi kesenian tradisional untuk memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Masyarakat dapat ikut menjaga keberadaan Wayang Topeng Jatiduwur dengan mengenal, menyaksikan, memperkenalkan, serta mendukung produk kreatif yang mengangkat kesenian tersebut.
Dukungan terhadap kesenian lokal tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi dapat memberikan ruang bagi berkembangnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Wayang Topeng Jatiduwur bukan sekadar topeng yang digunakan untuk bercerita. Di balik setiap bentuk wajah terdapat sejarah, tradisi, keterampilan, dan identitas masyarakat Jatiduwur.
Nilai tersebut dapat menjadi kekuatan untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya. Ketika warisan budaya mampu dirawat sekaligus dikembangkan secara tepat, topeng Jatiduwur tidak hanya menjadi cerita dari masa lalu, tetapi dapat membuka peluang ekonomi dan membawa identitas Jombang kepada masyarakat yang lebih luas.[MJ]











