MAKKAH – Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), kesiapan fisik dan mental jemaah menjadi perhatian utama penyelenggara haji. Tidak hanya soal stamina, kepatuhan konsumsi obat-obatan serta kemampuan menjaga kesehatan mental kini dinilai menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk.
Hal itu dirasakan langsung oleh rombongan jemaah yang tergabung dalam Kafilah Haji ESQ Tours Travel tahun 2026. Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi, kepadatan jutaan jemaah, hingga aktivitas ibadah dengan mobilitas tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi para tamu Allah.
Praktisi kesehatan nasional sekaligus jemaah haji, Apt. Mohamad Iqbal Yulianto, M.H.Kes., mengatakan pengelolaan kesehatan pribadi harus menjadi perhatian serius, terutama bagi jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
“Ibadah haji adalah salah satu ibadah fisik terberat di dunia. Kepatuhan jemaah terhadap waktu dan dosis obat yang mereka bawa dari tanah air tidak boleh putus. Namun, obat-obatan jasmani ini hanya akan bekerja optimal jika didukung kondisi psikologis yang stabil atau waras,” tulis Iqbal yang saat ini berada di Makkah.
Menurutnya, banyak jemaah yang secara fisik sebenarnya cukup kuat, tetapi mengalami penurunan kondisi akibat kelelahan mental, kecemasan, hingga kepanikan saat menghadapi situasi padat di Tanah Suci.
Karena itu, pendekatan kesehatan mental berbasis spiritual mulai banyak diterapkan dalam pembinaan jemaah haji. Salah satunya dilakukan melalui metode kecerdasan emosional dan spiritual atau Emotional Spiritual Quotient (ESQ).
Pendiri ESQ, Prof. Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian, dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji adalah penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Menurutnya, ketika hati mampu ikhlas dan tenang, tubuh juga akan lebih mudah beradaptasi menghadapi tekanan fisik selama proses ibadah.
“Ketenangan jiwa sangat memengaruhi daya tahan tubuh. Saat seseorang mampu mengelola emosi dan kecemasan, tubuh akan merespons lebih baik, risiko kepanikan menurun, dan kondisi fisik lebih terjaga,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting, terutama menjelang fase Armuzna yang dikenal sebagai puncak ibadah sekaligus fase paling berat bagi jemaah haji.
Selain mengingatkan pentingnya menjaga pola makan, istirahat, dan hidrasi tubuh, petugas kesehatan juga meminta jemaah tidak mengabaikan konsumsi obat rutin serta tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh menurun.
Melalui kombinasi penguatan fisik, pengelolaan obat-obatan yang disiplin, dan penguatan mental health berbasis spiritual, diharapkan jemaah Indonesia dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan aman hingga kembali ke tanah air dalam kondisi sehat.











