NASIONAL, SUARA PANCASILA.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 masih kuat dengan keseimbangan primer yang positif dan defisit yang tetap terkendali.
Suahasil menjelaskan bahwa, pendapatan negara hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp 2.055,6 triliun atau 65,2 persen dari target. Pendapatan tersebut tumbuh 25,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Hingga akhir Agustus kinerja APBN kita kuat dengan keseimbangan primer yang positif, defisit tetap terkendali, berarti perjalanan APBN-nya relatif on track,” kata Suahasil dalam Konpers APBN KiTa edisi September di Kementerian Keuangan pada Jumat (18/9/2026).
Pendapatan negara ditunjang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.619,3 atau tumbuh 21,7 persen. Terdiri dari penerimaan pajak di angka Rp 1.409 triliun atau 24,1 persen sedangkan kepabeanan dan cukai di angka Rp 210,2 triliun, tumbuh 7,8 persen. Selain itu, PNBP di angka Rp 435,1 triliun.
Sementara itu, belanja negara tercatat Rp 2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari target. Belanja negara tersebut tumbuh 17,1 persen secara tahunan. Suahasil mengatakan, belanja pemerintah pusat di angka Rp 1.791,5 triliun atau 56,9 terhadap APBN, disusul belanja K/L Rp 912,4 triliun dan belanja non K/L Rp 879,1 triliun. Adapun transfer ke daerah Rp 504,3 triliun.
Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun keseimbangan primer APBN tercatat positif Rp154 triliun.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan pendapatan negara hingga akhir Juli 2026 tumbuh 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh tinggi 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini peningkatan yang cukup signifikan,” kata Prabowo dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam Penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2027 di Gedung DPR/MPR, Jumat (14/8/2026).
Prabowo mengatakan belanja negara diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat pelayanan publik, dan menggerakkan perekonomian.Meski belanja negara tumbuh 18,2 persen hingga akhir Juli 2026, Prabowo mengatakan defisit APBN tetap terjaga pada level 0,91 persen terhadap PDB.
“Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91 persen terhadap produk domestik bruto,” kata dia.Menurut Prabowo, kondisi tersebut menunjukkan keberpihakan kepada rakyat dapat berjalan bersama dengan disiplin fiskal.
“Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada rakyat dapat berjalan bersama dengan disiplin fiskal. Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kita memilih kedua-duanya,” tegas Prabowo.











