KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID-Hari terakhir ritual keagamaan 108 Guan Shi Yin Pu Sa Chu Jia Da Fa Hui, Klenteng Eng An Kiong gelar prosesi pengembalian Kiem Sin atau pratima (perwujudan suci). Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga mengandung pesan spiritual tentang pentingnya meneladani nilai-nilai welas asih Dewi Kwan Im dalam kehidupan sehari-hari.
Ritual yang berlangsung di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, ini menjadi momentum untuk memperkuat kehidupan spiritual umat sekaligus mengajak masyarakat luas mengimplementasikan nilai kasih sayang, kepedulian, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Yayasan Klenteng Eng An Kiong Malang, Rudi Phan, mengatakan bahwa pelaksanaan ritual tersebut memiliki makna lebih mendalam daripada sekadar menjalankan tradisi keagamaan yang berlangsung secara rutin.
Menurutnya, sosok Dewi Kwan Im dikenal sebagai simbol welas asih yang mengajarkan manusia untuk senantiasa memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Dewi Kwan Im itu adalah dewi yang welas kasih. Jadi, kita mengadakan ini dengan mengajak masyarakat supaya meniru teladan dari Dewi Kwan Im, mana yang welas kasih,” ujar Rudi Phan saat ditemui di sela-sela kegiatan, Minggu (01/11/2026).
Salah satu bagian penting dalam rangkaian ritual tersebut adalah prosesi She Jien Kiem Sin, yakni pengembalian Kiem Sin atau pratima (perwujudan suci) dewa yang sebelumnya diinapkan di Klenteng Eng An Kiong.
Kiem Sin yang berasal dari sejumlah klenteng lain dikembalikan melalui prosesi ritual di hadapan altar utama. Setelah menjalani prosesi tersebut, masing-masing Kiem Sin diserahkan kepada pengurus atau perwakilan klenteng asal untuk selanjutnya dibawa kembali ke tempat peribadatan masing-masing.
Prosesi ini menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang sarat makna penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan kelestarian budaya umat.
Rangkaian pengembalian Kiem Sin telah dimulai sejak Minggu sekitar pukul 13.00 WIB. Proses penyerahan dilakukan secara bertahap hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai pada keesokan harinya.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan antarpengurus klenteng dan umat, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui kegiatan ini, Klenteng Eng An Kiong diharapkan terus menjadi ruang spiritual yang mampu merawat kerukunan, memperkuat persaudaraan, serta membangun keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Malang Raya.
Rudi Phan menegaskan, nilai utama yang ingin disampaikan melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut adalah bagaimana setiap orang mampu menerapkan kasih sayang dan kepedulian dalam kehidupan nyata.
“Harapannya ke depan, setelah acara ini kita semua bisa lebih welas kasih, serta kehidupan bermasyarakat dan dunia bisa menjadi lebih damai dan tenteram,” pungkasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa nilai-nilai spiritual tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga melalui sikap dan tindakan nyata dalam menghormati, membantu, serta mengasihi sesama manusia.











