Diawali Sembahyangan Bersama, Kisah Putri Miaoshan Warnai Panggung Spiritual Dewi Kwan Im di Kelenteng Eng An Kiong

KOTA MALANG (JATIM), SUARAPANCASILA,ID– Suasana khidmat menyelimuti Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang, dalam rangkaian kegiatan keagamaan 108 Guan Shi Yin Pu Sa Chu Jia Da Fa Hui, Jumat (30/10/2026). Sebelum panggung cerita perjalanan spiritual Dewi Kwan Im ditampilkan, umat terlebih dahulu mengikuti ritual sembahyangan bersama sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada Bodhisattva Avalokitesvara.

Setelah prosesi keagamaan, perhatian umat diarahkan pada panggung cerita yang mengangkat perjalanan Putri Miaoshan, sebuah legenda yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan pemujaan Dewi Kwan Im dalam tradisi Tiongkok.

Panggung cerita tersebut menghadirkan kisah penuh makna tentang perjalanan seorang putri kerajaan yang memilih meninggalkan kemewahan duniawi demi menjalani kehidupan spiritual, mengembangkan kebajikan, serta mengabdikan dirinya untuk menolong sesama makhluk hidup.Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, Dewi Kwan Im atau Guan Shi Yin Pu Sa dikenal sebagai Bodhisattva Avalokitesvara, sosok yang melambangkan welas asih tanpa batas dan senantiasa mendengarkan jeritan penderitaan seluruh makhluk.

Bacaan Lainnya

Salah satu legenda populer yang berkembang dalam tradisi Tiongkok mengisahkan perjalanan Putri Miaoshan, putri ketiga Raja Miaozhuang. Sejak kecil, Miaoshan digambarkan memiliki kepribadian berbeda dari kehidupan bangsawan pada umumnya. Ia lebih menyukai kesederhanaan, gemar menolong orang miskin, serta memiliki ketertarikan mendalam terhadap ajaran spiritual.

Ketika beranjak dewasa, Miaoshan menolak keinginan ayahnya yang menghendakinya menikah dengan seorang bangsawan. Ia memilih jalan spiritual dan mengabdikan hidupnya untuk mendalami ajaran Buddha.

Keputusan tersebut memunculkan konflik dengan sang ayah. Berbagai tekanan dan hukuman diterimanya, tetapi Miaoshan tetap teguh mempertahankan keyakinannya.

Puncak kisah yang paling menyentuh terjadi ketika Raja Miaozhuang jatuh sakit. Dalam legenda tersebut, Miaoshan rela mengorbankan kedua mata dan tangannya demi kesembuhan ayahnya, meskipun sebelumnya dirinya pernah mendapatkan perlakuan keras.

Pengorbanan itu menjadi simbol kasih sayang yang tidak mengenal batas, bahkan terhadap seseorang yang pernah menyakiti dirinya.

Dalam perkembangan legenda, Miaoshan kemudian digambarkan memperoleh perwujudan seribu tangan dan seribu mata atau Qianshou Qianyan Guanyin. Perwujudan tersebut melambangkan kemampuan melihat penderitaan dan memberikan pertolongan kepada seluruh makhluk.

Ketua panitia, Jenny, mengatakan bahwa peringatan Hari Pelepasan Agung Bodhisattva Avalokiteshvara bukan sekadar perayaan keagamaan semata. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan menjadi panduan bagi umat untuk merenungkan makna pengorbanan, ketulusan, welas asih, serta kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Bodhisattva Avalokiteshvara merupakan lambang welas asih yang agung karena senantiasa mendengarkan jeritan penderitaan makhluk dan memberikan pertolongan tanpa membeda-bedakan.“Bodhisattva Avalokiteshvara, yang dikenal sebagai lambang welas asih yang agung, senantiasa mendengarkan jeritan penderitaan makhluk dan menolong dengan cinta kasih tanpa membeda-bedakan,” tambahnya.

Ia berharap melalui rangkaian kegiatan keagamaan tersebut, umat tidak hanya menjalankan ritual sembahyangan sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai luhur dari ajaran yang disampaikan.

Kisah Putri Miaoshan yang diangkat melalui panggung cerita spiritual memiliki pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Welas asih mengajarkan manusia untuk peduli terhadap penderitaan orang lain. Ketulusan mengajarkan keikhlasan dalam membantu tanpa mengharapkan imbalan, sedangkan kebijaksanaan menjadi landasan dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.

Melalui rangkaian sembahyangan bersama dan panggung cerita perjalanan Dewi Kwan Im, Kelenteng Eng An Kiong menghadirkan ruang refleksi spiritual bagi umat untuk semakin memahami makna penghormatan kepada Bodhisattva Avalokitesvara.

Sebab, esensi welas asih bukan hanya mendengarkan penderitaan, melainkan juga menumbuhkan kesadaran untuk menghadirkan pertolongan melalui tindakan nyata.

Kisah Putri Miaoshan pun meninggalkan pesan mendalam bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kedudukan maupun kekayaan, melainkan dari ketulusan hati, kebijaksanaan, pengorbanan, dan kasih sayang yang diberikan kepada seluruh makhluk hidup.

suarapancasilaid'

Pos terkait