KABUPATEN TANGERANG (BANTEN) SUARAPANCASILA.ID – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali dipertanyakan. Kali ini, dugaan makanan tidak layak konsumsi ditemukan dalam paket MBG yang dibagikan kepada siswa SDN Gembong, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Rabu (16/9/2026).
Seorang orang tua siswa kelas 2A mengungkapkan kepada awak media bahwa anaknya menerima paket MBG yang di dalamnya terdapat potongan buah semangka yang diduga sudah dalam kondisi busuk atau tidak layak untuk dikonsumsi.
Temuan ini sontak memicu kekhawatiran orang tua. Bukan tanpa alasan, makanan tersebut diberikan langsung kepada anak-anak sekolah sebagai bagian dari program pemenuhan gizi. Karena itu, kualitas dan keamanan setiap makanan yang masuk ke dalam paket MBG semestinya menjadi perhatian serius.
Orang tua siswa mempertanyakan bagaimana buah yang diduga sudah tidak layak konsumsi bisa lolos hingga masuk ke dalam paket makanan yang kemudian dibagikan kepada siswa.
“Kami mendukung program MBG, tetapi tolong makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar diperiksa. Jangan sampai ada makanan yang sudah tidak layak justru masuk ke dalam paket,” ungkapnya.»
SATU POTONG SEMANGKA, SERIBU PERTANYAAN
Temuan tersebut membuka pertanyaan yang lebih besar mengenai sistem pengawasan MBG.
Siapa yang bertanggung jawab memeriksa bahan makanan? Apakah buah diperiksa satu per satu sebelum dikemas? Bagaimana standar pemeriksaan kualitas makanan? Apakah ada pengecekan akhir sebelum makanan dikirim ke sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab secara terbuka agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Sebab, persoalannya bukan semata-mata mengenai satu potong semangka. Persoalannya adalah bagaimana sistem pengawasan bekerja ketika makanan yang diduga sudah tidak layak konsumsi dapat ditemukan dalam paket MBG yang diterima siswa.
Jika temuan tersebut terbukti sebagai makanan yang memang sudah tidak layak konsumsi, pihak terkait perlu melakukan evaluasi terhadap seluruh rantai proses, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi.
ORANG TUA: JANGAN TUNGGU ADA KORBAN
Orang tua siswa meminta pengawasan terhadap program MBG diperketat. Menurutnya, pemerintah dan pengelola program harus memastikan makanan yang diberikan kepada siswa memenuhi standar keamanan pangan.
Kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan potensi dampak kesehatan apabila makanan yang telah rusak dikonsumsi. Namun, apakah semangka tersebut benar-benar telah rusak dan apakah terdapat risiko kesehatan, hal itu tetap memerlukan pemeriksaan atau penilaian dari pihak yang berwenang.
Jangan sampai pengawasan baru diperketat setelah muncul siswa yang mengalami gangguan kesehatan.
Program MBG seharusnya memberikan rasa aman kepada orang tua, bukan justru menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka.
SPPG PENYALUR MASIH MISTERI
Yang tak kalah penting, hingga berita ini diterbitkan, pihak SDN Gembong belum memberikan keterangan resmi mengenai temuan tersebut. SPPG yang mendistribusikan paket MBG ke sekolah tersebut juga masih dalam penelusuran awak media.
Awak media masih berupaya meminta klarifikasi dari pihak sekolah, SPPG terkait, serta instansi pemerintah yang memiliki kewenangan dalam pelaksanaan dan pengawasan program MBG.
Publik berhak mendapatkan penjelasan: siapa SPPG penyalurnya, bagaimana prosedur pemeriksaan makanan dilakukan, dan bagaimana buah yang diduga tidak layak konsumsi bisa sampai ke tangan siswa?
Sepotong semangka mungkin terlihat sepele. Tetapi jika benar makanan yang tidak layak konsumsi dapat lolos dalam rantai distribusi MBG, maka yang harus diperiksa bukan hanya buahnya melainkan sistem pengawasannya.
(Bonai Gunawan)











