BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA ID – Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menerima kunjungan Duta Besar RI untuk Italia, Malta, San Marino, dan Siprus, Junimart Girsang di Pendopo Kabupaten Brebes, Rabu (29/4/2026) sore. Pertemuan itu membahas peluang kerja sama ekonomi serta penguatan akses produk unggulan Brebes ke pasar internasional, khususnya Eropa.
Bupati Brebes yang akrab disapa Mitha itu menyampaikan bahwa daerahnya tengah menyiapkan langkah ekspansi ekonomi ke pasar global secara lebih terarah melalui penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk. Menurut dia, strategi tersebut menjadi kunci agar komoditas lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mampu memiliki daya saing di pasar internasional.
Dengan pertumbuhan ekonomi Brebes pada 2025 yang tercatat sebesar 5,42 persen, sedikit di atas rata-rata Jawa Tengah sebesar 5,37 persen, pemerintah daerah menilai momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas ekspor berbasis produk olahan.
“Sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di Jawa Tengah, kami memiliki komoditas yang kami yakini layak masuk pasar Eropa,” ungkap Bupati Mitha dalam keterangan tertulis kepada Surapancasila.id, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan, go international tidak hanya berkaitan dengan pengiriman produk, tetapi juga kesiapan sistem yang mencakup standar mutu, sertifikasi, dan kemitraan dagang yang tepat.
“Kami sadar, go international bukan sekadar mengirim produk. Ini soal jaringan, standar, dan mitra yang tepat. Karena itu, kehadiran Bapak Duta Besar hari ini sangat berarti bagi kami,” katanya.
Dalam paparannya, Bupati menyebutkan bahwa pada 2024 Brebes mencatat produksi bawang merah sekitar 409 ribu ton atau sekitar 60 persen produksi Jawa Tengah dan 20 persen nasional. Pada 2025, Pemkab Brebes juga telah melakukan ekspor perdana 11.800 ton ke Thailand, Singapura, dan Vietnam.
Namun untuk pasar Eropa, strategi yang disiapkan berbeda, yakni tidak lagi berbasis komoditas segar, melainkan produk olahan seperti bawang goreng premium, pasta bawang, saus bawang, hingga produk turunan telur asin.
“Pasar Eropa menuntut nilai tambah. Karena itu, yang kita dorong adalah produk olahan, bukan hanya bahan mentah,” tegasnya.
Selain bawang merah, Brebes juga menyiapkan sejumlah komoditas unggulan lain, seperti batik Salem yang dikerjakan sekitar 200 perajin di Kecamatan Salem, sektor perikanan dan tambak dengan nilai produksi mencapai Rp462 miliar per tahun, serta pengembangan telur asin ke segmen pangan premium internasional.
Junimart Girsang yang juga Wakil Tetap RI pada FAO, IFAD, WFP, dan UNIDROIT itu menyampaikan apresiasi atas langkah Pemerintah Kabupaten Brebes yang dinilai mulai serius membuka akses pasar global. Ia menilai komitmen daerah menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk lokal.
“Saya mengapresiasi niat tulus Ibu Bupati untuk memajukan Brebes. Komitmen seperti ini penting agar potensi daerah benar-benar dapat naik kelas,” ujar Junimart.
Ia menyatakan kesiapan untuk menjembatani kerja sama antara Pemkab Brebes dengan mitra di Italia, khususnya di sektor pengolahan pangan, teknologi pertanian, serta penguatan sistem Indikasi Geografis.
Dalam pertemuan itu juga dibahas penguatan Indikasi Geografis (IG) untuk Bawang Merah Brebes. Saat ini Indonesia masih memiliki jumlah produk IG yang relatif sedikit dibanding negara Eropa seperti Italia yang telah memiliki ratusan produk terdaftar.
Bupati Mitha menyebut penguatan IG menjadi salah satu pekerjaan rumah penting dalam memperkuat branding komoditas daerah di pasar global.
“Bawang Merah Brebes belum memiliki status Indikasi Geografis. Ini gap yang harus kita kejar, dan kami terbuka untuk belajar dari mitra yang lebih berpengalaman,” tambahnya.
Ia menegaskan, seluruh agenda hilirisasi dan ekspor tersebut merupakan bagian dari visi “Brebes BERES” yang menitikberatkan pada transformasi ekonomi berbasis nilai tambah dan daya saing global.
“Kami berharap pertemuan ini dapat berkembang ke pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan output dan outcome yang konkret. Brebes siap,” tutupnya.










