BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Dalam tradisi Jawa, lakon Petruk Dadi Ratu selalu relevan ketika masyarakat berbicara tentang kepemimpinan. Petruk adalah sosok rakyat biasa, jenaka, sederhana, namun tajam membaca keadaan. Ketika ia menjadi raja, pesan yang muncul jelas: kekuasaan tidak selalu milik mereka yang merasa paling berhak. Kadang, pemimpin terbaik justru lahir dari kesederhanaan, keberanian, dan kedekatan dengan rakyat.
Perumpamaan itu terasa menarik ketika melihat kepemimpinan Bupati Brebes periode 2025–2030, Paramitha Widya Kusuma. Sebagai salah satu kepala daerah termuda di Jawa Tengah, ia membawa gaya kepemimpinan yang dinamis, terbuka, dan berorientasi pada kerja nyata. Dalam berbagai kesempatan, Paramitha menunjukkan bahwa pemerintahan tidak cukup berjalan lewat seremoni, tetapi harus hadir dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Pada tahun pertama pemerintahannya, fokus besar diarahkan pada pembangunan infrastruktur jalan. Saat meninjau perbaikan ruas jalan kabupaten di wilayah Brebes Selatan pada pertengahan 2025, Paramitha menegaskan, “Jalan yang baik akan membuka akses ekonomi masyarakat, mempercepat layanan, dan memudahkan aktivitas warga.” Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, tetapi fondasi pergerakan ekonomi daerah.
Di kesempatan lain, saat mengevaluasi program pembangunan bersama jajaran OPD di Pendopo Kabupaten Brebes, ia menyampaikan, “Pembangunan harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan hanya terlihat di laporan.” Kalimat ini menggambarkan gaya kepemimpinannya yang menempatkan manfaat nyata sebagai ukuran keberhasilan pemerintahan.
Langkah tersebut terasa penting bagi Brebes, daerah dengan wilayah luas dan kebutuhan konektivitas tinggi. Jalan bagi masyarakat bukan sekadar aspal. Ia adalah jalur distribusi hasil tani, akses menuju sekolah, jalan menuju rumah sakit, dan urat nadi aktivitas desa.
Namun kepemimpinan tidak hanya soal beton dan aspal. Paramitha juga menaruh perhatian pada penguatan ekonomi lokal. Saat menghadiri Halal Bihalal dan Rapimkab Kadin Brebes di Brebes, April 2026, ia mengatakan, “Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha sangat penting untuk memperkuat ekonomi Brebes.” Dalam forum yang sama, ia menambahkan, “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha adalah mitra strategis dalam membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”
Pernyataan itu menunjukkan arah pembangunan yang mengedepankan sinergi. Investasi didorong, tetapi UMKM juga diberi ruang tumbuh melalui kemudahan izin, pelatihan, dan digitalisasi pemasaran.
Dalam konteks Brebes, UMKM adalah denyut ekonomi rakyat. Pedagang pasar, usaha rumahan, warung kecil, pengrajin lokal, hingga pelaku usaha digital menjadi bantalan ekonomi masyarakat. Karena itu, keberpihakan pada UMKM bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan kebijakan sosial.
Di bidang kesehatan, Paramitha menjadikan penanganan stunting sebagai salah satu prioritas. Saat menghadiri rembuk stunting tingkat kabupaten di Brebes pada 2025, ia menegaskan, “Penanganan stunting harus menjadi kerja bersama, dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga keluarga.” Dalam kesempatan itu pula ia menyampaikan, “Anak-anak Brebes harus tumbuh sehat, cerdas, dan kuat karena mereka masa depan daerah ini.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia diposisikan sama pentingnya dengan pembangunan fisik. Daerah yang maju bukan hanya soal gedung dan jalan, tetapi kualitas generasi mudanya.
Gaya kepemimpinan Paramitha juga terlihat dari pendekatan lapangan yang cukup intens. Saat meninjau pelayanan publik dan berdialog dengan warga di sejumlah kecamatan, ia beberapa kali menekankan pentingnya mendengar suara masyarakat secara langsung. Dalam salah satu kunjungan kerja, ia mengatakan, “Saya ingin mendengar sendiri apa yang menjadi keluhan warga agar solusi yang diambil tepat sasaran.”
Pendekatan seperti ini memberi kesan kepemimpinan yang lebih egaliter dan responsif. Rakyat biasanya mampu membedakan mana pemimpin yang datang untuk bekerja, dan mana yang datang sekadar berfoto.
Dalam pembenahan birokrasi, Paramitha juga menampilkan pesan tegas. Saat pelantikan dan rotasi pejabat di lingkungan Pemkab Brebes pada 2025, ia menyampaikan, “Rotasi jabatan bukan hukuman, melainkan penyegaran organisasi dan penguatan komitmen pelayanan.” Ia juga menambahkan, “Jabatan adalah amanah. Yang utama bukan posisi, tetapi kinerja dan integritas.”
Kalimat ini menunjukkan upaya membangun budaya birokrasi yang profesional. Aparatur diposisikan sebagai tim kerja, bukan sekadar struktur administratif.
Di bidang tata kelola, Brebes meraih predikat Informatif dalam keterbukaan informasi publik. Pada malam penganugerahan KIP Award, Paramitha menyampaikan, “Keterbukaan informasi adalah hak masyarakat dan kewajiban pemerintah.” Ia menambahkan, “Semakin terbuka pemerintah, semakin besar kepercayaan publik.”
Pesan tersebut penting di tengah tuntutan masyarakat yang kini semakin kritis. Pemerintah modern dituntut bukan hanya bekerja, tetapi juga mampu menjelaskan apa yang dikerjakan, berapa anggarannya, dan apa hasilnya.
Sebagai daerah agraris, Brebes juga identik dengan bawang merah nasional. Saat bertemu kelompok tani di sentra produksi bawang merah, Paramitha menegaskan, “Petani harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.” Ia juga mengatakan, “Kita ingin petani untung, harga stabil, dan produksi terjaga.”
Perhatian pada pertanian sangat penting karena sektor ini masih menjadi tulang punggung ekonomi Brebes. Petani membutuhkan kepastian harga, akses pupuk, teknologi, dan irigasi yang baik.
Di titik inilah lakon Petruk Dadi Ratu terasa hidup kembali. Petruk adalah simbol pemimpin yang tidak mabuk kekuasaan, tetap sederhana saat berada di puncak, dan tidak alergi terhadap kritik. Kepemimpinan modern pun semestinya demikian. Kekuasaan bukan panggung untuk dipuja, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Tentu, perjalanan memimpin daerah tidak pernah mudah. Persoalan banjir, kemiskinan, lapangan kerja, kualitas pendidikan, hingga ketimpangan ekonomi masih menjadi pekerjaan besar. Tetapi masyarakat selalu bisa membaca arah, apakah pemimpinnya bergerak menuju solusi atau sekadar sibuk membangun citra.
Jika konsistensi itu terus dijaga, maka kepemimpinan Paramitha Widya Kusuma dapat dibaca sebagai fase baru Brebes: lebih terbuka, lebih cepat bekerja, dan lebih dekat dengan rakyat. Dan bila rakyat merasa dipimpin oleh sosok yang sederhana, mau mendengar, serta berani bekerja, mungkin itulah bentuk modern dari kisah lama yang tak pernah usang: Petruk kembali dadi ratu.










