SURABAYA (JATIM), SUARAPANCASILA,ID-Kiprah Djoko Prihatin, S.M. di panggung politik mendapat apresiasi melalui ajang 9.9 Awarding Ketik.com. Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang tersebut meraih penghargaan sebagai Tokoh Muda Politik Penggerak Demokrasi Inklusif.
Penghargaan itu diberikan dalam gelaran bertema “Melesat Hebat” yang berlangsung di Mercure Surabaya Grand Mirama Hotel, Rabu (9/9/2026).
Capaian tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Kota Malang. Dalam ajang penghargaan tersebut, hanya dua tokoh dari Kota Malang yang memperoleh apresiasi, yakni Djoko Prihatin dan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.
Bagi Djoko yang akrab disapa Joe, penghargaan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai pengakuan atas kiprah personal. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi bentuk tanggung jawab moral untuk meningkatkan kualitas pengabdian politik dan memperluas kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Saya mengucap syukur dan berterima kasih atas reward ini. Saya sangat senang. Ini menjadi pemicu buat saya untuk bisa lebih baik lagi menjadi politisi yang ada di Kota Malang, sehingga bisa memberikan dampak pada Kota Malang,” ujar Djoko.
Menurut Djoko, apresiasi tersebut harus ditempatkan sebagai momentum evaluasi sekaligus motivasi. Dalam perspektif kehidupan demokrasi, penghargaan bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk mendorong seseorang agar semakin konsisten menjalankan peran publik secara bertanggung jawab.
Ia menilai, politik pada dasarnya memiliki dimensi pengabdian yang tidak dapat dilepaskan dari kepentingan masyarakat. Karena itu, legitimasi politik idealnya tidak hanya dibangun melalui kontestasi elektoral, tetapi juga melalui kemampuan menghadirkan gagasan, membuka ruang partisipasi, membangun komunikasi publik dan menghasilkan kebijakan maupun kegiatan yang memberikan manfaat.
“Penghargaan ini justru menjadi tantangan bagi saya. Artinya, apa yang diapresiasi ini harus bisa saya pertanggungjawabkan melalui kerja nyata. Jangan sampai penghargaan hanya berhenti pada seremoni, tetapi harus menjadi energi untuk terus memberikan manfaat,” katanya.
Djoko juga mengapresiasi Ketik.com yang memberikan ruang penghargaan kepada individu maupun tokoh yang dinilai memiliki kontribusi di berbagai bidang kehidupan masyarakat.
“Terima kasih kepada Ketik.com yang memberikan perhatian kepada pegiat-pegiat sosial, budaya, politik dan pemerintahan,” ujarnya.
Ia berpandangan, demokrasi yang inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Politik tidak semestinya hanya dipahami sebagai aktivitas perebutan kekuasaan, melainkan sebagai mekanisme untuk mengartikulasikan kepentingan publik secara terbuka dan konstruktif.
Dalam konteks tersebut, kata Djoko, generasi muda memiliki posisi strategis. Selain dituntut memahami dinamika politik, generasi muda juga perlu memiliki kapasitas untuk membangun dialog lintas kelompok serta menjembatani kepentingan masyarakat dengan institusi politik dan pemerintahan.
“Bagi saya, menjadi politisi muda berarti harus memiliki keberanian untuk belajar, mendengar dan memahami persoalan masyarakat. Politik harus semakin dekat dengan kebutuhan publik. Ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa besar posisi yang kita miliki, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan,” tuturnya.
Predikat Tokoh Muda Politik Penggerak Demokrasi Inklusif yang diterimanya, lanjut Djoko, akan dijadikan sebagai energi untuk memperkuat komitmen tersebut.
Ia menyadari bahwa penghargaan publik juga membawa konsekuensi berupa ekspektasi yang lebih besar. Karena itu, apresiasi tersebut akan menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kapasitas, memperluas jejaring komunikasi serta memperkuat kerja-kerja politik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat
“Penghargaan ini saya jadikan sebagai pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Saya ingin terus belajar dan bekerja agar keberadaan saya di dunia politik benar-benar mempunyai arti bagi masyarakat Kota Malang,” tegasnya.
Dengan hanya dua tokoh asal Kota Malang yang menerima penghargaan dalam 9.9 Awarding Ketik.com, apresiasi tersebut sekaligus menjadi catatan positif bagi kiprah figur daerah di tingkat Jawa Timur.
Bagi Djoko, penghargaan tersebut bukan titik akhir perjalanan politik, melainkan sebuah mandat moral untuk membuktikan bahwa apresiasi terhadap dirinya dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata, gagasan konstruktif dan kontribusi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kota Malang.











