BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Dalam ilmu pohon, ada satu pelajaran sederhana: “ranting hanya dilempari batu jika pohonnya sedang berbuah”. Tak ada orang repot melempari batang kering yang tak memberi hasil. Tak ada kerumunan datang ke kebun tandus hanya untuk mencaci cabang lapuk. Batu selalu diarahkan ke dahan yang sedang ranum, ke cabang yang sedang tumbuh, ke pohon yang sedang memberi harapan.
Begitu pula politik.
Yang ramai diserang sering kali bukan yang paling lemah, melainkan yang dianggap punya arti. Yang dijadikan sasaran bukan karena tak berguna, tetapi justru karena berguna. Dalam arena kekuasaan, keberadaan seseorang kadang lebih mengusik daripada kesalahannya.
Loyalitas adalah mata uang langka.
Ia tidak dijual di pasar, tidak bisa dipinjam, dan tak mungkin dibeli dengan janji musiman. Pengkhianat punya harga. Orang loyal punya keyakinan. Yang pertama bisa dinegosiasikan, yang kedua sulit dipindahkan. Karena itulah, loyalitas sering dianggap lebih berbahaya daripada pengkhianatan.
Jika tak mampu membeli kesetiaan, lawan akan mencoba merusaknya.
Bukan tubuhnya yang diserang, melainkan citranya. Bukan orangnya yang dibunuh, melainkan bayangannya.
Serangan langsung ke batang utama terlalu berisiko. Bila batang sedang kokoh, disukai publik, dan berbuah lebat, kapak bisa berbalik menghantam penebangnya. Maka dipilih jalan memutar: melempari ranting. Membuat cabang tampak rapuh agar orang mulai ragu pada pohonnya. Hari ini isu soal kedekatan, besok jabatan, lusa masa lalu. Tujuannya satu: membangun narasi bahwa pohon dikelilingi ranting bermasalah, bukan orang-orang terbaik.
Ranting yang loyal adalah sasaran paling strategis. Ia dekat dengan batang. Ia menjadi saluran informasi, penjaga ritme, kadang penyaring suara liar dari luar. Menyerang ranting seperti ini bukan sekadar kritik, tetapi operasi politik.
Pertama, memutus telinga batang.
Siapa yang dekat dengan pusat keputusan selalu dianggap berpengaruh. Maka orang dekat harus dibuat tampak sebagai beban. Harapannya, batang menjauh sendiri. Begitu ruang kosong tercipta, para pembisik baru segera antre masuk.
Kedua, menguji urat syaraf.
Mengusik ranting adalah cara memancing reaksi batang. Apakah ia emosional? Apakah defensif? Apakah fokusnya buyar? Ini tes psikologi kekuasaan. Jika energi habis untuk menjawab gosip, agenda besar ikut tersandera.
Ketiga, mencuri perhatian.
Membahas anggaran terlalu teknis. Membahas terlalu rumit. Membahas data sering sepi penonton. Tapi membahas orang dekat, lingkaran dalam, ajudan, itu renyah untuk kolom komentar dan grup percakapan. Sensasi selalu lebih cepat viral daripada substansi.
Nietzsche menyebut gejala itu sebagai ressentiment atau iri hati yang menyamar sebagai moralitas. Schopenhauer bahkan lebih sinis: sebagian orang merasa bahagia bukan saat dirinya maju, melainkan saat orang lain jatuh. Maka dimulailah perburuan “enam baris kesalahan”.
Kardinal Richelieu pernah berkata: “Beri aku enam baris tulisan tangan orang paling jujur, dan aku akan menemukan alasan untuk menggantungnya.” Maksudnya jelas: bila niatnya menjatuhkan, bukti hanyalah formalitas. Jika tak ada salah, dicari celah. Jika tak ada celah, dibuat tafsir.
Inilah pembunuhan karakter.
Jika ranting tampak gelap, maka cahaya batang ikut diredupkan. Jika orang dekat dianggap bermasalah, publik didorong percaya bahwa pusat kuasa pun sama buruknya. Istilah modernnya: guilt by association.
Namun ancaman bagi pohon bukan hanya batu dari luar. Kadang bahaya terbesar justru datang dari dalam batang itu sendiri.
Ada pohon yang tumbuh tinggi lalu lupa dari mana kekuatannya berasal. Ia merasa kokoh karena batangnya besar, merasa agung karena puncaknya menjulang, lalu percaya bahwa dirinya berdiri sendiri. Padahal tidak ada pohon besar yang hidup hanya karena batang. Ia hidup karena akar yang menahan, tanah yang memberi makan, daun yang bekerja diam-diam, dan ranting-ranting yang menanggung beban musim.
Ketika pohon mulai malu pada rantingnya sendiri, kerusakan dimulai. Ranting lama dianggap terlalu biasa. Cabang setia dinilai tak lagi berguna. Orang-orang yang dulu menjaga kebun dipinggirkan karena kurang memuji atau kurang modis. Lalu pohon mulai melirik ranting dari luar.
Datanglah ranting asing, entah dari mana asalnya. Membawa warna baru, pujian baru, janji baru. Ia pandai bicara tentang arah matahari dan cara tumbuh cepat. Pohon yang haus tepuk tangan pun terpesona. Ranting luar ditempelkan tanpa diuji, tak ditanya akarnya dari mana, tak diperiksa getahnya cocok atau tidak, tak dilihat apakah ia datang untuk berbuah atau sekadar menumpang teduh.
Di situlah gesekan bermula.
Ranting lama merasa diabaikan. Ranting baru merasa paling dibutuhkan. Yang lama dianggap kuno, yang baru merasa paling tahu. Sindiran tumbuh seperti lumut. Bisik-bisik merayap dari daun ke daun. Cabang yang dulu saling menopang mulai saling dorong.
“Gesekan ranting kering dan basah, jika terlalu sering, akan terbakar”.
Yang muda merasa lebih segar dan lebih layak tumbuh. Yang lama merasa lebih berpengalaman dan lebih berhak bertahan. Yang satu ingin cahaya baru, yang lain menjaga bayang-bayang lama. Bila dibiarkan, panas kecil berubah menjadi bara. Bara menjadi api.
Dan saat api menyala, tak ada lagi perbedaan antara ranting basah dan kering.
Semua ikut hangus. Buah jatuh sebelum matang. Daun gugur. Burung pergi. Batang yang dulu perkasa retak dimakan panas dari dalam.
Banyak organisasi, partai, kerajaan, bahkan keluarga runtuh dengan cara seperti ini. Bukan karena lawan dari luar terlalu kuat, tetapi karena terlalu percaya pada orang luar tanpa memahami maksudnya, sambil meremehkan yang selama ini setia di dalam.
Politik memang punya ironi sendiri.
Sering kali yang sibuk melempar batu tak pernah menanam pohon. Yang ramai mencela tak pernah menyiram akar. Yang pandai berteriak tak pernah ikut menahan badai. Sementara ranting yang dilempari justru tetap bekerja: menahan angin, menopang daun, dan menjaga buah tetap tumbuh.
Ilmu pohon sebenarnya sederhana.
Batang besar tak akan kokoh tanpa ranting yang kuat. Pemimpin sehebat apa pun tak akan berhasil tanpa orang-orang terbaik di sekelilingnya. Yang datang membawa hijau belum tentu meneduhkan. Yang tampak biasa belum tentu tak berjasa.
Maka bila hari ini ada ranting yang terus dilempari batu, jangan buru-buru iba. Bisa jadi ia sedang berada di pohon yang paling subur.
Dan bila ada pohon yang mulai membenci rantingnya sendiri, berhati-hatilah. Sering kali pohon seperti itu tidak tumbang karena kapak lawan, melainkan karena api yang lahir dari dalam dirinya sendiri.










