BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID– Rencana relokasi SD Negeri Brebes 01 untuk mendukung perluasan fasilitas RSUD Brebes mendapat dukungan dari berbagai unsur masyarakat. Dukungan datang dari kalangan kesehatan, pendidikan, sastra dan sejarah, serta perwakilan wali murid.
Mereka menilai pengembangan RSUD Brebes penting untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, proses relokasi sekolah harus tetap memperhatikan keberlangsungan pendidikan dan kepentingan para siswa.
Dukungan tersebut mengemuka dalam diskusi yang berlangsung di kediaman Azmi Asmuni Majid, Perumahan D’Oasis, Desa Pulosari, Kecamatan Brebes. Diskusi melibatkan aktivis kesehatan Deden Suleman, Dewan Pengawas RSUD Brebes Azmi Asmuni Majid, aktivis pendidikan Kustoro WHY, serta sastrawan dan sejarawan Hendritus.

Deden Suleman memandang pengembangan RSUD Brebes sebagai kebutuhan penting untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Kebutuhan lahan dan pengembangan fasilitas rumah sakit perlu diperhatikan, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan serta kepentingan siswa.
Senada, Azmi Asmuni Majid mendukung pengembangan RSUD Brebes sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan rumah sakit kepada masyarakat.
Dari perspektif pendidikan, Kustoro WHY menekankan bahwa relokasi sekolah harus memperhatikan kepentingan siswa. Lokasi pengganti harus memiliki lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan didukung fasilitas memadai. Kegiatan belajar mengajar juga harus tetap berjalan baik selama proses pemindahan.
Sementara itu, Hendritus mengingatkan pentingnya menjaga nilai sejarah SD Negeri Brebes 01. Menurutnya, pemindahan sekolah tidak berarti menghilangkan identitas dan jejak sejarahnya. Karena itu, sejarah sekolah perlu dihargai dan didokumentasikan.
SD Negeri Brebes 01 berdiri di atas lahan seluas 2.913 meter persegi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, bangunan sekolah tersebut tidak termasuk kategori cagar budaya. Meski demikian, sekolah itu tetap memiliki nilai sejarah dalam perjalanan pendidikan di Kabupaten Brebes.
Dukungan terhadap relokasi juga disampaikan perwakilan paguyuban wali murid melalui musyawarah pada Rabu (4/11/2026). Dalam berita acara yang ditandatangani Ketua Paguyuban Ibu-ibu SDN Brebes 01, Nita Indriyani, para orang tua menyatakan mendukung program revitalisasi RSUD Brebes dengan sejumlah persyaratan terkait lokasi pengganti.
Dalam berita acara tersebut, terdapat dua lokasi yang diusulkan, yakni Gedung Nasional atau kompleks BPBD Brebes dan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes. Paguyuban secara tegas menyatakan tidak bersedia jika sekolah dipindahkan ke kantor BKPSDMD Brebes.
Sejalan dengan aspirasi tersebut, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes menyepakati dua lokasi alternatif relokasi setelah audiensi dengan paguyuban wali murid.
Kepala Dindikpora Brebes, Sutaryono, mengapresiasi sikap para wali murid yang bersedia mendukung rencana pengembangan rumah sakit.
“Kami apresiasi para ibu-ibu ini. Pada dasarnya para wali murid tidak keberatan untuk direlokasi demi pembangunan bersama, kesehatan dan pendidikan sama-sama penting,” ujar Sutaryono.
Ia mengakui suara wali murid merupakan cerminan kepedulian terhadap kualitas pendidikan di tengah rencana pembangunan daerah.
Meski dukungan terus mengemuka, kepastian lokasi relokasi masih menjadi hal penting yang perlu dituntaskan pemerintah daerah. Kesiapan bangunan, ketersediaan ruang kelas, akses jalan, serta keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah harus menjadi pertimbangan sebelum lokasi pengganti ditetapkan.
Dengan demikian, rencana perluasan RSUD Brebes tidak hanya berorientasi pada penambahan fasilitas kesehatan, tetapi juga harus menjamin hak siswa memperoleh lingkungan pendidikan yang layak.











