Di Bawah Bimbingan Ibu Mey Saphira, Sanggar Budaya Renaissance Merakit Perjalanan Suci Waisak 2570 BE di Candi Plaosan

KARANGKATES (JAWA TIMUR), SUARAPANCASILA.ID – Cinta kasih terhadap warisan luhur budaya serta semangat menjaga nilai spiritual kembali menyala terang dari Sanggar Budaya Renaissance. Beralamat lengkap di Jl. Rambutan Gg. II No.12, Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65165, komunitas ini bersiap mengantar para anggotanya menuju sebuah perjalanan suci yang penuh makna. Tujuan agung langkah kali ini adalah kawasan Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, tempat yang menyimpan sejarah peradaban tinggi dan menjadi saksi bisu penyebaran ajaran damai Sang Buddha Gautama.

Di setiap langkah persiapan maupun pelaksanaan, arahan datang langsung dari Ibu Mey Saphira. Beliau bukan hanya menjabat sebagai Pimpinan sekaligus Pemilik Sanggar, melainkan juga bertindak selaku Pemangku Budaya yang menjadi pusat harapan dan pembimbing rohani bagi seluruh anggota. Di bawah tuntunan dan keteladanan beliau, segala persiapan berjalan dengan tertib, khidmat, dan penuh nuansa kekeluargaan yang kental.

Sebelum keberangkatan menuju tanah suci, pada Sabtu, 30 Mei 2026, seluruh peserta yang berasal dari berbagai penjuru wilayah Jawa Timur—mulai dari Pasuruan, Surabaya, Blitar, Malang Raya, hingga Kabupaten Malang—telah berkumpul di sekretariat sanggar. Di hadapan seluruh rombongan, Ibu Mey Saphira memimpin prosesi doa bersama dalam suasana hening dan penuh penghayatan mendalam. Doa dipanjatkan ke hadirat Sang Maha Kuasa, memohon kelancaran langkah, keselamatan jiwa raga, serta perlindungan sepanjang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan budaya, melainkan wujud bakti tulus dan penghormatan tinggi terhadap jejak sejarah, kearifan lokal, dan nilai-nilai kebajikan universal.

Bacaan Lainnya

Rangkaian Kegiatan Suci: Merayakan Tiga Peristiwa Agung

Puncak perayaan digelar pada hari Minggu, 31 Mei 2026. Di tengah keagungan arsitektur dan suasana sakral Candi Plaosan, serangkaian kegiatan telah disusun rapi untuk memaknai Hari Raya Waisak tahun 2570 BE/2026:

– 06.00 – 10.00 WIB: Rangkaian dimulai dengan Puja 3 Langkah Namaskara, yang juga dikenal dengan sebutan San Bu Yi Bai. Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi, ketundukan hati, dan permohonan berkah agar seluruh kegiatan senantiasa dilimpahi cahaya kebijaksanaan.
– 10.00 WIB – Selesai: Mewujudkan ajaran berbagi kasih, diselenggarakan Bakti Sosial berupa Pembagian Sembako bagi warga sekitar di Balai Desa Kebon Dalem Kidul, Klaten. Langkah nyata ini menjadi jembatan kasih sayang, membuktikan bahwa nilai kebajikan harus tercermin dalam kepedulian nyata terhadap sesama dan lingkungan sekitar.
– 14.00 – 14.15 WIB: Suasana semakin khidmat dengan pelaksanaan Puja Bakti di kompleks Candi Plaosan, yang kemudian berlanjut menjadi Kirab Waisak. Iring-iringan suci ini akan bergerak perlahan dan penuh penghayatan dari Candi Plaosan menuju Candi Sojiwan, seolah merajut kembali benang emas sejarah peradaban bangsa yang penuh toleransi.
– 18.00 WIB – Selesai: Menjadi penutup sekaligus puncak dari seluruh rangkaian kegiatan, digelar Puja Bakti Waisak dan pemberian Blessing Waisak. Di momen sakral inilah seluruh peserta bersatu hati merayakan tiga peristiwa agung: kelahiran, pencerahan sempurna, dan pelepasan akhir Sang Buddha Gautama.

Menyatu Hati dalam Keberagaman Persaudaraan

Keindahan perayaan Waisak tahun ini semakin lengkap dengan hadirnya semangat persatuan yang luar biasa. Sanggar Budaya Renaissance tidak berjalan sendiri, melainkan membaur dan bersatu hati bersama puluhan komunitas, vihara, kelenteng, serta yayasan kebudayaan yang datang dari berbagai pelosok tanah air. Kebersamaan lintas wilayah dan latar belakang ini menjadi simbol nyata bahwa damai, toleransi, dan persaudaraan adalah kekuatan utama bangsa Indonesia.

Berikut adalah mitra dan rekan sejiwa yang turut berpartisipasi memeriahkan dan menyucikan acara agung ini:

1. Wanita Pelestari Sangul Indonesia – Surabaya
2. Sendratari Kanthaka – Temanggung
3. Laskar Trengono Kusumo
4. Vihara Avalokiteswara – Karanganyar
5. Vihara Dhamma Manggala – Sukoharjo
6. MLKI
7. Vihara Khanti Dharmma
8. Vihara Avalokitesvara
9. Vihara Metta Karuna
10. Vihara Dhamma Susila – Kemiri
11. Vihara Dhamma Ratana
12. Vihara Avalokitesvara – Bulusari
13. Klenteng Liong Hok Bio – Magelang
14. Kelenteng Tek Hay Bio – Semarang
15. Hok An Kiong – Muntilan
16. Yayasan Manjushri Buddhist – Salatiga
17. Salatiga MNSBDI
18. Klenteng Tay Kak Sie
19. Vihara Dharma Santi Juwana – Pati
20. MAHASI – DKI Jakarta
21. MAHASI – Bali
22. Vihara Cikung – Surabaya
23. Citeya Metta Padma
24. Vihara Giriloka
25. Kelenteng Si Mian Fo
26. Tridharma
27. Vihara Dharmasagara – Jakarta
28. Vihara Lalitavistara – Cilincing
29. Vihara Dana Paramita – Babelan
30. Vihara Dhamma Budi Bakti
31. Vihara Dharmasagara – Bandung
32. Vihara Budi – Bandung
33. Perkumpulan Perempuan Berbudaya – Kediri
34. Panguyuban Wikramasena – Nganjuk
35. PASAK – Kediri
36. MAHASI – Bangka
37. MAHASI – Belitung
38. Vihara Puspita Dhamma Kabesan – Banyumas
39. Vihara Awalokiteswara – Sumpiuh
40. Vihara Buddha Paramu – Jepara
41. Vihara Santiloka Widarapayung – Cilacap

Melalui kehadiran dan partisipasi bersama ini, Sanggar Budaya Renaissance di bawah bimbingan langsung Ibu Mey Saphira menegaskan harapan besarnya: agar perjalanan suci ini mampu menyebarkan energi damai, berkah, dan kebahagiaan bagi seluruh makhluk di alam semesta, sekaligus semakin mengukuhkan komitmen bersama dalam menjaga dan meneruskan warisan budaya luhur Nusantara.

suarapancasilaid'

Pos terkait