Langen Tayub di Jum’at Pahing, Pacul Merawat Jejak Leluhur

BOJONEGORO (JATIM) SUARAPANCASILA.ID – Suara tembang mengalir dari bibir waranggana, lembut menembus malam. Tubuhnya bergerak gemulai mengikuti denyut gamelan yang bertalu dari Balai Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro, Jumat (28/8/2026) malam

Setiap nada seolah memiliki cerita. Setiap gerak tari seperti membawa kembali ingatan pada masa lalu. Di hadapan waranggana, para penari laki-laki memainkan selendang dengan gerakan luwes, mengikuti irama yang terus mengalun.

Malam itu, Langen Tayub bukan sekadar pertunjukan. Kesenian tradisional tersebut menjadi bagian dari rangkaian tasyakuran dan sedekah bumi yang rutin digelar masyarakat Desa Pacul setiap tahun.

Bacaan Lainnya

Sebelum pertunjukan dimulai, warga terlebih dahulu menggelar tahlil dan doa bersama. Mereka memanjatkan rasa syukur sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, serta perlindungan dari segala bala.

Sedekah bumi menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengingat akar tradisi. Di dalamnya terdapat rasa syukur atas kehidupan dan hasil bumi, sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggalkan warisan budaya.

Kepala Desa Pacul, Wagimin, mengatakan Langen Tayub merupakan budaya turun-temurun yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Langen Tayub ini budaya turun-temurun dari nenek moyang. Harus tetap dilestarikan, termasuk oleh generasi muda,” ujar Wagimin.

Bagi masyarakat Pacul, menjaga Langen Tayub berarti menjaga bagian dari identitas desa. Kesenian itu tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan warga dan sarana mengenalkan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut masih menemukan tempatnya. Generasi tua menjadi penjaga ingatan, sementara generasi muda diharapkan menjadi tangan yang meneruskan warisan tersebut agar tidak terputus.

Malam semakin larut. Gamelan masih bertabuh. Tembang waranggana mengalun, sementara selendang terus bergerak mengikuti irama.

Di Pacul, tradisi tidak dibiarkan menjadi sekadar cerita masa lalu. Ia terus dihidupkan melalui tasyakuran, sedekah bumi, dan Langen Tayub.

Jumat Pahing malam itu menjadi pengingat bahwa jejak leluhur masih bernapas. Ia hidup dalam suara gamelan, mengalun melalui tembang, bergerak dalam tarian, dan bertahan melalui masyarakat yang memilih untuk terus merawatnya.

suarapancasilaid'

Pos terkait