TANAH LAUT(KALSEL), SUARA PANCASILA.ID – Di sebuah sudut Desa Panjaratan, tepatnya di RT 5/02, aksi sunyi namun penuh makna terjadi pada Kamis, 30 April 2026. Tanpa sorotan dan tanpa menunggu bantuan, seorang warga bernama Bahriannor memilih bergerak sendiri memperbaiki jembatan ulin yang kondisinya nyaris ambruk.
Jembatan tersebut bukan sekadar pelintas biasa. Ia merupakan akses utama yang menghubungkan aktivitas harian warga, dari rumah ke rumah, dari satu kebutuhan ke kebutuhan lainnya. Ketika kondisi jembatan mulai rapuh dan berlubang, risiko keselamatan pun tak lagi bisa diabaikan.
Berangkat dari kesadaran akan pentingnya fasilitas publik, Bahriannor mengambil langkah nyata. Sejak sore hari hingga menjelang maghrib, ia memperbaiki bagian jembatan yang rusak seorang diri. Tidak ada keramaian, tidak pula dukungan, hanya tekad dan kepedulian yang menjadi penggeraknya.
Langkah ini bukan tanpa latar belakang. Kerusakan jembatan sebelumnya telah memakan korban. Seorang warga bahkan harus menjalani perawatan serius akibat luka yang cukup parah, termasuk seorang nenek paruh baya yang menjadi korban dari lubang di salah satu jembatan yang ada di desa Panjaratan. Kejadian itu menjadi pengingat kuat bahwa keselamatan publik sering kali bergantung pada kondisi fasilitas yang terlihat sederhana.
Desa Panjaratan sendiri masih sangat bergantung pada jembatan sebagai penghubung utama antarwarga. Meski sebagian sudah bertransformasi menjadi jembatan beton yang lebih kokoh dan tahan lama, keberadaan jembatan ulin masih menjadi bagian penting yang memerlukan perhatian berkelanjutan.
Dari apa yang dilakukan Bahriannor, tersirat sebuah dorongan untuk langkah yang lebih sistematis. Pemantauan rutin terhadap kondisi titian dan jembatan di seluruh wilayah desa menjadi hal yang relevan untuk dipertimbangkan, agar setiap potensi kerusakan dapat segera ditangani sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.
Aksi seorang diri ini menghadirkan pesan kuat bahwa perubahan bisa dimulai dari satu langkah kecil. Ketika kepedulian tumbuh, bahkan dalam kesederhanaan, ia mampu menghadirkan dampak nyata bagi banyak orang. Perbaikan jembatan ini bukan sekadar memperbaiki kayu yang lapuk, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa menjaga fasilitas bersama adalah bagian dari tanggung jawab kolektif demi keselamatan dan kemaslahatan masyarakat luas.(suarapancasila.id-hayat)










