Tiga Kali Seminggu Cuci Darah, Bocah 12 Tahun di Dangdeur Jayanti Berjuang Melawan Gagal Ginjal, Pemkab Tangerang Diminta Turun Tangan

KABUPATEN TANGERANG (BANTEN) SUARAPANCASILA.ID – Perjuangan hidup seorang bocah berusia 12 tahun, Siti Junita (SJ), warga Kampung Garedog RT 05/RW 03, Desa Dangdeur, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, menggugah perhatian.

Di usia yang masih begitu muda, Siti harus bergantung pada mesin hemodialisis atau cuci darah akibat penyakit gagal ginjal stadium akhir. Ia diwajibkan menjalani cuci darah secara rutin beberapa kali dalam seminggu untuk mempertahankan kondisi tubuhnya.

Kondisi tersebut membuat keluarga harus menjalani rutinitas berat. Mereka terpaksa bolak-balik dari Jayanti menuju RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo/rumah sakit rujukan di Jakarta untuk mendapatkan perawatan, dengan jarak dan biaya perjalanan yang tidak sedikit.

Bacaan Lainnya

Ayum (41), ibu Siti, menuturkan bahwa kondisi anaknya mulai mengalami berbagai keluhan sejak beberapa tahun lalu. Tubuh Siti kerap lemas dan mengalami pembengkakan. Setelah menjalani pemeriksaan medis, keluarga mendapat informasi bahwa fungsi ginjal anaknya telah mengalami penurunan berat.

«“Sekarang jadwalnya tiga hari sekali harus cuci darah. Kalau telat sedikit, badannya langsung bengkak dan sesak napas. Kami sangat berharap ada perhatian lebih dari pemerintah kecamatan dan kabupaten,” tutur Ayum.»

Meski biaya tindakan medis telah mendapatkan jaminan melalui BPJS Kesehatan, beban keluarga belum sepenuhnya teratasi. Biaya transportasi, kebutuhan sehari-hari, nutrisi khusus, serta sejumlah kebutuhan penunjang pengobatan menjadi persoalan tersendiri.

Bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, perjalanan berulang menuju Jakarta bukan perkara mudah. Dalam kondisi anak membutuhkan perawatan rutin, biaya transportasi yang harus dikeluarkan berkali-kali dalam sepekan menjadi beban yang terus berulang.

“Kami hanya rakyat kecil. Uang untuk transportasi bolak-balik ke rumah sakit setiap tiga hari itu berat buat kami. Mohon Pak Bupati dan jajaran dinas terkait bisa melihat kondisi anak kami,” ungkap Ayum dengan nada lirih.

Keluarga berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Kecamatan Jayanti dan Dinas Kesehatan dapat memberikan perhatian serta membantu mencarikan solusi agar Siti mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau.

Selain bantuan sosial untuk meringankan kebutuhan keluarga, masyarakat juga berharap pemerintah dapat terus meningkatkan akses pelayanan hemodialisis bagi pasien anak di fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan wilayah Kabupaten Tangerang, tentunya sesuai ketersediaan dan ketentuan medis.

Perjuangan Siti bukan sekadar persoalan penyakit. Di balik rutinitas menuju rumah sakit, ada perjuangan sebuah keluarga untuk mempertahankan kehidupan seorang anak.

Kini, harapan keluarga tertuju kepada perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakat agar perjuangan Siti tidak harus ditanggung seorang diri.

suarapancasilaid'

Pos terkait