Ziarah Kebangsaan PAC PDI Perjuangan Kedungkandang Ke Makan Bung Karno, Tanamkan Semangat Nasionalisms dan Warisan Marhaenisme

BLITAR (JATIM), SUARAPANCASILA,ID – Dalam rangka memperingati Haul Bung Karno sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap sejarah bangsa, kader dan simpatisan PAC PDI Perjuangan Kedungkandang Kota Malang menggelar kegiatan Ziarah Kebangsaan ke Makam Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, di Kota Blitar, Sabtu (20/6/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan kader dan simpatisan tersebut diawali dengan titik kumpul di kediaman Devi Yurlena, pengurus Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan dan Anak, serta Pariwisata PAC PDI Perjuangan Kedungkandang Kota Malang yang berlokasi di Jalan Danau Bratan Raya G6/J15, Kota Malang.

Sejak pukul 07.30 WIB, para peserta mulai berdatangan dengan mengenakan atribut dan pakaian bernuansa merah sebagai simbol semangat perjuangan, nasionalisme, dan loyalitas terhadap nilai-nilai ideologi kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa. Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan berangkat menuju Kota Blitar.

Bacaan Lainnya

Sebelum keberangkatan, rombongan secara resmi dilepas oleh tokoh senior PDI dan pejuang politik nasional, H. Dimmy Haryanto, yang juga merupakan ayah kandung Devi Yurlena.

Dalam sambutannya, Dimmy Haryanto menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda, khususnya Generasi Z yang akan menjadi penerus bangsa di masa mendatang.

“Saya berharap generasi muda, terutama Gen Z, semakin peduli terhadap nilai-nilai moral dan perjuangan para pemimpin bangsa, khususnya sosok Bung Karno yang telah meletakkan fondasi Indonesia merdeka. Semangat nasionalisme harus terus dijaga agar bangsa ini tidak kehilangan arah dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar Dimmy.

Ia juga berpesan kepada seluruh kader dan simpatisan PDI Perjuangan agar mampu meneladani pemikiran serta perjuangan Bung Karno yang berpihak kepada rakyat kecil melalui ajaran Marhaenisme.

“Semoga seluruh kader dan simpatisan dapat menghayati dan mengamalkan ajaran nasionalis Marhaenisme yang diwariskan Bung Karno, yaitu mewujudkan keadilan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tambahnya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, rombongan yang semula dijadwalkan langsung menuju Makam Bung Karno terlebih dahulu diarahkan ke Istana Gebang. Perubahan agenda dilakukan karena pada waktu yang bersamaan kawasan Makam Bung Karno sedang menerima kunjungan Kapolri beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang juga melaksanakan ziarah nasional.

Di Istana Gebang, peserta mengikuti tur edukatif untuk mengenal lebih dekat kehidupan Bung Karno sejak masa kecil hingga menjadi tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Rumah yang kini menjadi salah satu situs sejarah nasional tersebut menyimpan berbagai jejak perjalanan hidup Bung Karno, mulai dari masa pendidikan, proses pembentukan karakter kepemimpinan, hingga lahirnya gagasan-gagasan besar yang kemudian mengantarkannya menjadi Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia.

Para peserta juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai upaya pelestarian situs sejarah tersebut, termasuk program revitalisasi yang dilakukan pemerintah sebagai bagian dari menjaga warisan sejarah bangsa agar tetap dikenal generasi mendatang.

Usai mengikuti kegiatan edukasi di Istana Gebang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Makam Bung Karno untuk melakukan registrasi dan persiapan memasuki area makam.

Sekitar pukul 10.30 WIB, prosesi ziarah dimulai dengan doa bersama yang berlangsung khidmat hingga pukul 11.30 WIB. Seluruh peserta memanjatkan doa untuk almarhum Bung Karno serta mengenang jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan merumuskan dasar-dasar kebangsaan yang hingga kini menjadi pijakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Suasana haru dan penuh penghormatan tampak menyelimuti seluruh peserta selama prosesi berlangsung. Beberapa kader terlihat melakukan tabur bunga dan berdoa secara pribadi sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Proklamator.

Momentum tersebut sekaligus menjadi sarana refleksi bagi para peserta mengenai pentingnya menjaga persatuan, semangat gotong royong, serta kecintaan terhadap tanah air sebagaimana yang selalu diajarkan Bung Karno sepanjang hidupnya.

Ketua rombongan, Devi Yurlena, menegaskan bahwa kegiatan ziarah kebangsaan ini bukan sekadar perjalanan wisata sejarah, melainkan bagian dari proses pendidikan ideologi dan penguatan karakter kebangsaan bagi kader serta masyarakat.

“Melalui ziarah ini, kita diajak untuk tidak melupakan sejarah. Bung Karno telah mewariskan nilai-nilai perjuangan yang harus terus kita jaga dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan hanya perjalanan mengenang masa lalu, tetapi juga upaya menjaga semangat perjuangan agar tetap hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Devi.

Menurutnya, peringatan Haul Bung Karno memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar seremoni tahunan.

“Tujuannya selain untuk mendoakan arwah Bung Karno, kita juga ingin menghargai jasa-jasa beliau yang telah membesarkan Indonesia hingga menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, dan dihormati dunia seperti sekarang ini,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Malang Raya untuk lebih mengenal sejarah bangsanya sendiri sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam menjaga persatuan nasional.

Keikutsertaan H. Dimmy Haryanto dalam pelepasan rombongan memiliki makna tersendiri mengingat rekam jejak panjangnya dalam dunia politik nasional.

Dimmy mengawali kiprah organisasinya melalui Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Pada tahun 1963, ia dipercaya menjadi Sekretaris Ranting Partai Nasional Indonesia (PNI). Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1967, ia terpilih sebagai Wakil Ketua.

Karier politiknya terus berkembang. Pada Konferensi Cabang tahun 1970, Dimmy dipercaya sebagai Wakil Bendahara Ikatan PNI. Setahun kemudian, pada Pemilu 1971, ia terpilih menjadi anggota DPRD Tingkat II Malang.

Pada tahun 1973, ketika terjadi fusi berbagai partai nasionalis ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI), ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi DPRD hasil fusi yang melibatkan PNI, Parkindo, Partai Murba, dan sejumlah partai lainnya.

Kepercayaan terhadap dirinya semakin meningkat hingga pada tahun 1976 ia terpilih sebagai Ketua Cabang PDI Kota Malang. Selanjutnya pada Konferensi Jawa Timur tahun 1983, Dimmy dipercaya menjadi Sekretaris DPD PDI Jawa Timur.

Kariernya di tingkat nasional semakin menonjol ketika Kongres PDI Pondok Gede tahun 1986 memilihnya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI hingga tahun 1993.

Di bidang legislatif, Dimmy pernah menjabat anggota DPRD selama dua periode sejak 1971 hingga 1982. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengusulkan pembatasan masa jabatan anggota DPRD maksimal dua periode sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan.

Pada tahun 1987 hingga 1997, ia terpilih sebagai anggota DPR RI selama dua periode. Selanjutnya pada periode 1997-1999, ia menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur.

Dalam perjalanan politik nasional, Dimmy juga pernah dipercaya menjadi Ketua DPD PDI Jawa Timur dan aktif mengawal berbagai dinamika internal partai pada era 1990-an. Sejak 10 Januari 2003, ia menjabat sebagai Ketua Umum DPP PPDI.

Kegiatan ziarah kebangsaan PAC PDI Perjuangan Kedungkandang tersebut berakhir sekitar pukul 14.00 WIB dengan perjalanan kembali menuju Kota Malang.

Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh semangat. Selain menjadi sarana penghormatan terhadap Bung Karno, kegiatan ini juga mempererat tali persaudaraan antar kader, simpatisan, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut sejalan dengan pesan abadi Bung Karno yang terus relevan hingga saat ini:

“Jas Merah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak dapat dipisahkan dari penghormatan terhadap sejarah serta keteladanan para pendiri bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia.

REPORTER : DONI KURNIAWAN
EDITOR : DENNY W

suarapancasilaid'

Pos terkait