BREBES (JATENG), SUARAPANCASILA.ID – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brebes resmi melakukan soft launching layanan Cathlab di Aula RSUD Brebes, Selasa (12/5/2026). Kehadiran layanan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat penanganan penyakit jantung dan stroke, sekaligus memperluas akses layanan kegawatdaruratan di wilayah Pantura Barat.
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menyebut hadirnya Cathlab sebagai lompatan penting dalam transformasi layanan kesehatan daerah. Fasilitas ini diharapkan mampu mempercepat penanganan pasien jantung tanpa harus dirujuk jauh ke luar daerah.
“Terima kasih kepada seluruh jajaran RSUD Brebes atas dedikasi dan kerja kerasnya. Hari ini bukan sekadar menghadirkan alat, tetapi menghadirkan harapan baru bagi masyarakat Kabupaten Brebes,” ucap Bupati.
Ia menjelaskan, penguatan layanan Cathlab merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Brebes dalam mendukung program prioritas Kementerian Kesehatan, khususnya penguatan layanan KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi) serta pengembangan sistem rujukan nasional. Dengan adanya fasilitas ini, RSUD Brebes diharapkan mampu memberikan layanan yang lebih modern, terintegrasi, dan responsif terhadap kondisi kegawatdaruratan.
Menurutnya, selama ini sejumlah pasien dengan kondisi jantung harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah. Kondisi tersebut kerap terkendala waktu tempuh yang panjang, sehingga mempengaruhi peluang keselamatan pasien.
“Kita semua memahami bahwa dalam kondisi darurat, waktu adalah segalanya. Time is muscle, time is price. Setiap menit sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan,” tegasnya.
Bupati menambahkan, Cathlab memungkinkan dokter melakukan tindakan medis secara langsung pada pembuluh darah jantung menggunakan metode kateterisasi tanpa harus melalui operasi besar. Dengan teknologi tersebut, penyumbatan dapat segera diatasi, termasuk pemasangan ring untuk membuka aliran darah yang tersumbat.
Ia menilai kehadiran fasilitas ini menjadi lompatan besar dalam layanan kesehatan di daerah, terutama dalam penanganan penyakit jantung yang membutuhkan tindakan cepat.
Selain aspek layanan, Bupati juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal penyakit jantung. Banyak kasus, kata dia, tidak terdeteksi sejak dini karena gejalanya sering menyerupai keluhan ringan seperti masuk angin atau kelelahan biasa.
“Kadang masyarakat tidak sadar bahwa dirinya memiliki penyakit jantung karena gejalanya tidak khas. Padahal bisa saja sudah terjadi penyempitan pembuluh darah yang berbahaya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga membagikan pengalaman pribadi keluarganya yang pernah mengalami serangan jantung tanpa gejala berat sebelumnya. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan penyempitan pembuluh darah hingga 90 persen dan harus segera dilakukan pemasangan ring.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pengingat penting bahwa penyakit jantung sering datang tanpa tanda yang jelas, sehingga pemeriksaan kesehatan berkala dan deteksi dini menjadi sangat penting.
Sementara itu, Direktur RSUD Brebes, drg. Adhi Supriadi, menjelaskan bahwa Cathlab merupakan ruang khusus tindakan medis untuk mendiagnosis dan menangani penyakit jantung tanpa operasi terbuka. Prosedur dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di tangan atau paha, lalu diarahkan ke jantung untuk melihat kondisi pembuluh darah secara langsung.
“Ibaratnya, jika pembuluh darah adalah jalan, maka Cathlab berfungsi sebagai alat untuk membuka jalan darurat ketika terjadi sumbatan, sehingga aliran darah kembali lancar ke jantung,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Cathlab yang dioperasikan RSUD Brebes merupakan hibah dari pemerintah pusat melalui Program Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN) Kementerian Kesehatan RI yang diterima pada Desember 2025.
Selain itu, RSUD Brebes juga telah ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu layanan KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi).
Menurut Adhi, saat ini RSUD Brebes telah diperkuat dengan tenaga medis yang memadai, termasuk empat dokter spesialis jantung, dua di antaranya merupakan spesialis kardiologi intervensi, serta dukungan dokter radiologi intervensi, dokter saraf, dokter bedah saraf, dan tenaga kesehatan terlatih lainnya.
“Dengan kesiapan tersebut, kami optimis layanan Cathlab dapat berjalan 24 jam dan 7 hari dalam seminggu untuk mendukung pelayanan kegawatdaruratan jantung dan stroke,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan Cathlab memungkinkan penanganan pasien jantung dilakukan lebih cepat, terutama pada kondisi gawat darurat seperti serangan jantung akut. Dengan demikian, peluang keselamatan pasien dapat meningkat secara signifikan.
“Dengan hadirnya layanan ini, lanjutnya, sistem penanganan penyakit jantung dan stroke di daerah akan semakin cepat, tepat, dan mampu menurunkan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular,” tambahnya.
Peluncuran Cathlab bertepatan dengan kegiatan BPJS Kesehatan di Brebes. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menekankan pentingnya pola hidup sehat untuk mencegah penyakit kronis. Ia mengingatkan bahwa langkah sederhana seperti lari ringan dapat menjaga kesehatan jantung, menurunkan risiko hipertensi dan diabetes, serta memperpanjang usia.
“Kalau kita rajin berlari, jantung berdetak lebih cepat, pembuluh darah lebih lentur, risiko hipertensi dan diabetes bisa ditekan. Rajin olahraga bisa memperpanjang usia,” bebernya.
Pujo menambahkan, biaya kuratif yang ditanggung BPJS Kesehatan untuk penyakit kronis sangat besar. Pada 2025, Rp17,3 triliun dikeluarkan untuk 29,7 juta kasus jantung. Selain itu, Rp13,3 triliun untuk gagal ginjal, Rp10,3 triliun untuk kanker, dan Rp7,2 triliun untuk stroke. Karena itu, BPJS terus menggalakkan program promotif preventif, termasuk Prolanis Muda untuk generasi produktif di bawah 45 tahun.
Sinergi antara peluncuran Cathlab dan pesan promotif BPJS Kesehatan menjadi langkah strategis. Di satu sisi, masyarakat diajak menjaga kesehatan melalui olahraga dan pola makan sehat. Di sisi lain, pemerintah daerah memperkuat infrastruktur layanan medis agar penanganan jantung lebih cepat dan terintegrasi.
Pujo mengingatkan bahwa Program JKN berbasis gotong royong, di mana peserta sehat membantu membiayai peserta sakit. “Dengan rajin berolahraga dan menjaga kesehatan, kita sudah bergotong royong mendukung keberlanjutan JKN,” ujarnya. Masyarakat yang mengalami kendala layanan JKN dapat menghubungi petugas BPJS SATU! di rumah sakit, atau melalui Whatsapp PANDAWA di 0811 8 165 165, Aplikasi Mobile JKN, Care Center 165, maupun petugas PIPP.










